Cerita Panas

Ajak Aku Party

Oh God, aku merasa bahagia saat aku serasa diberikan hadiah terindah bagiku, yaitu sosok pria yang kuidamkan & dapat memberikanku kenyamanan, siapa lagi kalau bukan Kak Joel. Sejak ia datang kembali ke hidupku setelah 3 tahun tak pernah bertemu sedekat ini. Yah, aku teringat pada waktu itu di tengah malam setelah konser tunggal team K3 di Malang. Meski waktu itu kami hanya sebatas having sex karena ia tertarik pada tiap jengkal tubuhku. Aku selalu berpose seksi untuk memuaskan hasrat fansku. Tapi sejak ia datang, aku justru berharap saat aku perform ia datang & menikmati tiap sisi tubuhku. Ah, golden rules mengekangku. Kami pun backstreet, tak seperti mereka. Aku tak mau diturunkan ke Trainee seperti 2 temanku sesama gen 2.

Selama itulah, kami saling berbagi tubuh tiap malam. Awalnya kuharap ia segera mendapat tempat tinggal di Jakarta, namun lama kelamaan aku tak bisa tidur tenang tanpanya.

“Kak, kakak, bangun dong” Kubangunkan Kak Joel pagi itu. Aku memang sengaja bangun pagi sekali untuk review materi untuk UAS nantinya. Ya, aku mahasiswi ilmu komunikasi di perguruan tinggi di mana Kak Ve pernah kuliah di sana. Materi yang kupelajari tak jauh dari komunikasi, bahkan ada mata kuliah filsafat. Aku pusing mempelajarinya, tapi ia mengajariku dengan cara merenungkan sesuatu.

“Tutup aja bukumu, tarik nafas, tahan, keluarkan perlahan, kosongkan pikiran, renungkan” Ia tiba-tiba mengigau aneh mengenai filsafat.

Baca Juga: Perkosa Seorang Sekretaris Cantik

“Ih kakak bangun dong, kakak gak pengen sarapan apa?”

“Iya, mana?”

“Ih masak sendiri dong kak”

Ia pun duduk & menggaruk-garukkan kepalanya karena rambutnya berantakan. Ia tiba-tiba menempelkan dadanya di punggungku & tangannya meremas payudaraku dari luar tanktop putihku. Aku memang tak mengenakan BH saat tidur.

“Ih, kakak nih, aku mau belajar buat nanti, biarin aku konsen dulu” Kudorong tangannya menjauh dari tubuhku. Ia pun berlalu.

Memang, Desember ini aku masuk waktu UAS. Di kampusku, jika nilai mata kuliah jelek, harus mengulang di tahun depan. Aku harus konsentrasi saat ini. Aku sengaja menolak ajakannya hanya waktu ini saja. Terkadang ia juga bercinta dengan Nadila, temanku sendiri yang ia pacari juga. Sekuat bagaimana pun aku konsentrasi, pikiranku tentang adegan ranjang kami selalu membentur pikiranku. Aku takut tak bisa mengerjakan soal & hancur nilaiku. Pikiranku bercabang sekarang : kuliah, asmara, & karier. Bagaimana pun, aku harus bisa bertahan dengan keadaan seperti ini.

Kini aku tak minder lagi saat diejek kakak karena jomblo, bahkan aku bisa menyombongkan diri karena pernah mencicipi sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami-istri. Yah mau bagaimana lagi, namanya cinta jadi lupa diri. Kakakku tahu jika aku telah melakukan tindakan yang terlarang itu, namun ia berjanji tak membocorkan rahasiaku. Oh iya, sejak Kak Joel di sini, aku serasa dimanja. Semua pakaianku ia cuci, menyapu lantai, aku beli baju ia bayari. Mungkinkah ia menjadi jodohku? Hmm, jujur saja baru kali ini aku pacaran, tapi ia merenggut aset berhargaku saat kami belum jadian.

Mama pun merestui kami meski banyak perbedaan. Jujur saja aku belum pernah mengajaknya ke rumahku di Rangkasbitung. Jika begitu kan Kak Joel bisa berkenalan dengan anggota keluargaku.

“Em, kak, kalo UAS aku udah selesai, mau gak anterin aku ke Rangkas?” Kumulai obrolan setelah sarapan.

“Emm boleh lah, tapi aku belum pernah ke sana, entar nyasar” Ia memang belum pernah ke sana. Tapi ia pernah ke rumah Nadila di Bogor & berkenalan dengan anggota keluarga Nadila, bahkan pernah diskusi waktu pernikahannya.

“Kak, boleh tanya?”

“Boleh, emang tanya apa?”

“Kakak nikahin Nadila kapan?” Aku baru sekarang tanya karena tak mau membuat pikirannya kacau.

“Kakak udah minta Ayah kalo nunggu Nadila keluar dulu”

“Oh kirain sekarang”

“Belum lah Nat, dianya aja belum siap” Katanya sambil menumpuk piring kami.

Aku sempat berpikir jika hubungan ini sah-sah saja meski orang menilai hubungan kami sangat terlarang, asmara member idol group & staf, di mana ada aturan tak tertulis yang melarang hubungan cinta dengan siapapun. Memang di balik senyumanku & teman-temanku lain saat bertemu fans, tersimpan cerita kelam, seperti pacaran diam-diam, bahkan dengan staf, seperti aku & Kak Joel, Lidya & Harry, staf bagian audio, ataupun teman sesama alumni sekolah seperti yang sempat diturunkan ke Trainee. Yang lebih parah Viny: kedapatan berhubungan intim di Jepang. Dari semua skandal itu, hanya hubungan kami yang aman dari sasaran mata-mata. Bagaimana tidak, jalan bedua gandengan tangan saja kami harus tutup wajah, kalaupun tidak menutup wajah, kami jalan sendiri-sendiri. Makan pun tak semeja jika tempat terlalu ramai.

Ternyata, kami hanya selisih 9 bulan dalam tahun yang sama. Tapi aku suka memanggil kakak untuk Kak Joel. Aku sebentar lagi menyusul usianya : 21 tahun. Wah, terasa seumuran.

“Hey Nat, udah jam berapa ini? Ujian jam 11 tapi jam 9 tidur lagi” Oh tidak! Aku tertidur, seharusnya aku review materi UAS.

“Oh iya, kakak nyalain mobil dulu deh”

“Yaudah buruan mandi gih Nat” Ia melempar handuk & BH punyaku yang berukuran 38B. Ia pun berlari ke parkiran. Aku segera mandi & berpakaian rapi. Aku berlari dari lorong kosan & menuju mobil Honda Jazz biru miliknya. Di parkiran, aku ditunggu Nadila juga.

“Ih Nat lama banget sih?” Nadila menyenggol lengan kananku.

“Heheheh ketiduran” Aku mengaca di spion & wajahku memerah saking malunya. Padahal semalam aku tak bercinta.

Memang sejak Kak Joel memacari kami, tiap pergi ke kampus pun sering bertiga. Kami berdua duduk di belakang karena tak mau saling cemburu, meski kami mencintai 1 pria yang sama.

“Ih enak banget kamu belum UAS” Kugoda Nadila yang sedang merekam IG story.

“Ih apaan sih, ganggu banget” Nadila menjauhkan tanganku.

“Hehehehe ya iri sih Nad”

“Udah deh belajar aja”

“Wee udah dong Nad”

“Udah-udah, pagi gini kok ribut, sarapanmu berapa piring sih sampe berisik kayak gak makan” Kak Joel melerai kami dari tempat duduknya. Kami pun tertawa.

Tiba-tiba, tangan Nadila mendarat di dadaku sebelah kanan dari luar kaos putihku. Lama kelamaan, tangannya meremas payudara besarku, bahkan kedua milikku.

“Aaahh jangan Nad” Aku mencoba menjauhkan tangan Nadila”

“Nat, aku pengen segede ini” Nadila menunjuk kedua payudaraku.

“Eh? Pagi-pagi gini kok malah…” Aku belum tuntas bicara, Nadila justru menaikiku & mencium bibirku dengan kasar. Nafasnya memburu berat. Entah mengapa tanganku kini menekan kepala Nadila. Ia merangsek masuk dalam kaosku & meremasnya dari luar BH. Selangkanganku terasa gatal sekali. Oh shit! Aku janji sama Kak Joel kalau selama UAS ini aku tak melakukan aktivitas seksual. Kudorong pelan tubuhnya. Ia justru menggigit bibirku.

“Woi, pagi-pagi udah sange” Kak Joel rupanya menoleh ke arah kami. Kulihat selangkangannya menonjol.

“Emm maaf kak, dianya sih nyosor duluan” Aku menunjuk Nadila yang bibirnya belepotan liurnya sendiri. Nafas Nadila tak teratur akibat pertempuran singkat tadi.

Tak lama, kami tiba di kampusku. Gedung ini di mana Kak Ve pernah kuliah di sini dengan jurusan Desai Komunikasi Visual. Shani pun juga kuliah di sini, jurusan kami sama, & seangkatan juga.

“Eh Nat, udah dapet contekan belum?” Shani sudah menungguku di lorong kelas.

“Ah ngapain sih, kan bisa lirik kanan kiri, daripada ngulang tahun depan”

“Lah nakal Nat nih”

“Ehehehe enggak kok, aku yakin sama kemampuan sendiri”

“Terserah Nat hehehehe good luck” Shani tertawa lalu berpamitan berpisah karena ruang ujian kami berbeda.

Malam harinya, aku belajar hingga tengah malam. Materi yang kupelajari banyak sekali. Kak Joel terlihat serius menatap laptop, sesekali gusar. Aku pun yang bosan review materi menghampirinya di bawah lantai.

“Kak” Kudekap ia dari samping & kusandarkan kepalaku. Ia masih tak merespon.

“Kakak, kayaknya kepikiran sesuatu, masalah nikah?”

“Bukan Nat”

“Terus apa kak?”

“Hmm, kakak gak abis pikir kenapa Imel harus pergi”

“Kak, kan masih ada aku, aku janji kak”

Ia menolehkan kepalanya & mencium dahiku. Aku memejamkan mataku & meresapi ciuman dari seseorang yang kehilangan gairahnya.

“Makasih Nat udah bikin kakak nyaman”

“Iya, yuk lah tidur”

“Kamu udah kelar review?”

“Ya bisa aku lanjut besok pagi kak, aku ujian siang lagi” Kutarik tangannya & membereskan ranjangku. Aku matikan lampu di kamar ini, kuingin dipeluk oleh cahaya darimu.

Tiba-tiba aku terbangun sekitar jam 2 dini hari. Entah mengapa mataku terasa berat. Selangkanganku terasa gatal, tapi sekali lagi aku janji tak mengajak bercinta dengan siapapun. Ah, terasa terkekang sekali. Aku menarik tubuhku pelan meninggalkan ranjang. Dengan degup jantung kencang, kupastikan Kak Joel masih tertidur. Kupelankan langkahku & kututup lagi pintu kamarku. Aku mengetuk pintu kamar Nadila.

“Nad, Nad, buka pintunya dong”

Anehnya, Nadila langsung membuka pintunya.

“Eh, kirain udah bobo Nad”

“Emang kenapa sih kok malem gini kamu ke sini?”

“Udah deh, aku mau masuk, aku minta sesuatu”

Nadila pun menutup pintu & menguncinya.

Aku tak langsung berbaring di ranjang Nadila. Entah mengapa pikiranku tadi siang membuatku tak bisa tidur?

“Nad”

“Nat” Nadila menolehku.

“Aku minta sesuatu”

“Apa?”

“Boleh gak kalo aku minta…”

“Minta apa aja boleh Nat, kan kamu best friend aku” Nadila meyakinkanku.

“Aku sange waktu kamu grepe & cipok aku”

“Ehh”

“Please Nad, aku gak tahan”

“Bukannya kamu janji sama…”

“Ah bodo amat, lagian dia tidur, buruan gih” Kutarik tangan Nadila ke kedua bongkahan payudaraku. Dengan agak ragu, ia meremasku perlahan di balik piyama putihku. Remasannya lembut & teratur.

“Oohhh” Memang dari dulu, kedua payudaraku adalah titik sensitifku. Dadaku kembang kempis akibat nafasku mulai memburu.

Nadila perlahan terbawa nafsu. Ia melepas kancing atas piyamaku. Payudaraku terasa dingin karena aku kalau tidur jarang pakai BH. Putingku mengeras. Nadila mulai meremasku dengan kasar. Bibirnya mulai menyambar bibirku & melumat lidahku.

“Mmmhh mmmhhhh” Desahanku tertahan karena lidah kami saling beradu. Aku terpaksa berhubungan dengan sesama jenis, sungguh terlarang hubungan kami, tapi mau bagaimana lagi. Aku tak tahan lagi. Lidahnya semakin liar mengaduk isi mulutku. Aku harus mengimbangi permainan lidahnya. Kami memang benar-benar ahli ciuman bibir sejak Kak Joel mencium kami dengan cara yang sama. Liur kami mengental & mengalir ke mulutku.

Nadila melepas ciuman kami & mulutnya menyusuri leherku.

“Oohhh Naaad” Kujambak rambutnya karena kegelian saat Nadila mencium leherku. Kaos tanpa lengannya kuangkat ke atas. Ia masih mengenakan BH. Kulepas kaitnya hingga payudaranya yang berukuran sedang itu agak menggantung. Ia tak memedulikan dadanya terbuka, malah tambah liar menghisap payudara kananku.

“Aahhh” Aku justru terbawa nafsu sesama jenis. Maafkan aku Kak Joel, aku harus melanggar janjiku sendiri saat kakak tidur.

Remasannya semakin keras. Nadila gemas dengan dadaku, sesekali ia menciumi kedua putingku. Kuremas dadanya juga. Ia mendesah pelan akibat remasanku. Ia menyedot dadaku sangat kuat seakan memeras apa yang di dalam payudaraku.

“Aaahh geeliii” Kujambak rambut sahabatku sendiri, tak memedulikan rasa sakitnya. Kulumannya liar hingga air liurnya meluber mengalir di dadaku. Lengket sekali rasanya. Nafasku semakin tak teratur. Begitu pula dengan hembusan nafas Nadila. Selang beberapa menit, ia melepas kuluman di gundukan dadaku. Putingku terasa mengeras akibat rangsangannya.

Aku tak sadar jika celana piyamaku terlepas, entah sejak kapan. Nadila pun kini tak mengenakan apapun. Kami pun pernah tak mengenakan pakaian saat momen tertentu, terutama saat malam setelah theater sementara di Surabaya. Aku masih ingat betul saat Nadila mencukur bulu di sekitar vaginanya. Tanpa pikir panjang, kukerjai dia dengan menjilat liang kewanitaannya secara brutal.

Nadila kini melebarkan pahaku. Kepalanya ia dekatkan menuju liang kesukaan pacarku ini. Ia hirup aroma selangkanganku. Sesekali ia hembuskan nafasnya hingga membuatku merinding. Bibirnya ia rapatkan & memasukkan lidahnya ke liang vaginaku.

“Ssshhh ooohhh terusssss di situuuh” Kupejamkan mataku, seakan aku melayang. Ayunan lidahnya menggesekkan tiap lubang ini. Geli sekali rasanya. Jilatannya semakin liar & sambil menyedot kuat hingga bunyi.

Oohh Naaad aaauuuu” Pahaku kugesekkan pada kepala Nadila. Ia sangat menghayati jilatannya.

Saat aku mencapai puncak, Nadila menghentikan jilatannya. Ia kembali menindihku. Wajah kami saling mendekat.

“Nad, please lanjut”

“Iya Nat, aku mau lanjut, tapi apa gak pengen ganti gaya?” Nadila mengangkat tubuhnya. Ia mengangkangi kepalaku & menurunkan pantatnya hingga vagina mulusnya menempel mulutku. Aku secara refleks membuka mulutku & mulai menjilati liang kewanitaannya yang mulai becek. Nadila kembali menilati vaginaku.

“Mmhhhhh mmmhhhh” Aku kesulitan mengerang karena harus menjilatinya. Pantatnya semakin turun & menekan kepalaku. Sedangkan Nadila menggigit kecil klitorisku. Rasa geli & nikmat pun terasa bergairah bagiku. Nadila bangkit lagi & mengambil sesuatu yang tak bisa kulihat. Ia sambil mengobok vaginaku dengan lidahnya.

“Aahh terus, geli Nad, aaahh” Nafasku sedikit tak teratur akibat jilatannya. Ia menyedot lebih kencang. Lalu ia melepas jilatannya.

Kurasakan suatu benda panjang & besar masuk ke vaginaku hingga mengenai mulut rahimku.

“Aaaaaarrhhh” Kurasakan benda itu tak biasa. Jilatan pada vagina sahabatku sendiri sampai terlepas.Rasanya sakit sekali, seperti batangan berdiri. Tidak! Nadila memasukan dildo berduri halus silikon! Nadila memainkan dildo itu dengan kencangnya. Sekencang Kak Joel memasukkan penisnya. Berulang kali pangkal lubang vaginaku dihantam.

“Naaddd udaahh aaahhhh sshh aakit” Kucengkram kuat sprei ranjangnya. Sakit sekali lubangku akibat benda laknat itu.

“Gimana?” Nadila berdiri & menyerang bongkahan dadaku sebelah kiri. Remasannya kuat sekali.

“Aaahhhh yang kenceng Naaadd” Aku justru terbawa nafsu sesama. Selangkanganku serasa terbakar akibat genjotan dildo Nadila yang terlalu kencang. Duri-duri silikonnya membuat vaginaku terasa perih sekali.

“Eerrrrhhh aaahh” Tubuhku gerah sekali. Keringatku bercucuran seperti air hujan. Nadila kembali mencium bibirku lagi. Kini ketiga aset sensitifku ditaklukkan semua.

Mulut rahimku terkena hentakan dildo berduri itu. Otot rahimku seakan mengejang hebat.

“Mmmhhh mmmhh” Eranganku tertahan mulutnya yang liar. Lidahnya semakin liar mengocok lidahku. Pantatku sedikit terangkat akibat sodokannya semakin tak teratur. Dildo laknat itu menghujam tiap sisi liang kewanitaanku. Bibirku terasa kaku sekali, disusul tubuhku yang bergetar hebat. Nadila yang tahu keadaanku yang kaku menghentikan sodokan dildonya & melepas ciuman kami. Aku pun bisa bernafas lega. Tubuhku melemas kembali. Nadila pun mengatur nafasnya karena terlalu beringas memasukkan benda panjang itu.

Kupikir Nadila menghentikan permainannya. Ia memegang kedua lenganku kembali. Ia memposisikan tubuhku yang masih bertahan dengan sisa kekuatanku. Aku sedikit berjongkok dengan bertumpuan tangan di belakang. Nadila pun berposisi sama denganku. Ia memasukkan dildo itu ke vaginanya, lalu ia pacu sodokan dildonya.

“Aahh aaaahh oohhh” Nadila terbawa nafsu sendiri. Tak lama, ia memajukan pantatnya ke lubangku lagi.

“Aaahhh” Aku pun mendesah lagi saat hentakan pantatnya semakin kasar serta benda itu yang kurasa tersiksa. Tidak! Kami saling sodok lubang itu. Dildo itu kami pakai berdua.

“Aaahhh Naad jangan gillaaa” Aku pun menjambak rambutnya. Kami saling sodok.

Pantat kami saling beradu memasukkan dildo hingga selangkangan kami bertabrakan. Vagina kami terasa becek akibat rangsangan benda ini. Tiap sodokan kami menimbulkan bunyi yang keras. Tubuhku kembali bergetar lagi.

“Aaahhh aaahh aku hampir sampe” Aku pun cepat terangsang. Tak peduli dengan status hubungan kami yang terkesan jijik karena sesama jenis. Sensasinya berbeda meski aku memang cepat terangsang.

“Ih tunggu Nat, aku juga mau sampe” Nadila justru mempercepat sodokan hingga tubuhku juga tersentak cepat. Tubuh kami sama-sama menegang & pantat kamu terangkat.

Hingga akhirnya…

“Naaaat” Nadila menjerit kencang & menghujamkan dildonya hingga kedua vagina kami menempel.

“Naaad aaaahhh” Vaginaku menjepit kuat dildo berduri silikon itu. Kurasakan otot selangkanganku berkedut & bergetar.

“Aaaahhhh” Kami menggelinjang bersamaan & ambruk dengan dildo masih menancap di vagina kami. Aku memuntahkan cairan orgasmeku dengan derasnya. Nadila menyusul orgasmeku kemudian & menyemburkan cairan orgasmenya hingga liang kewanitaanku tersembur. Nafasku berat & pandanganku kabur. Nadila bangkit & menindih tubuhku. Kami pun kembali berciuman. Nafasku terpotong akibat ciumannya yang liar. Kulumannya hingga membuat liurnya mengalir ke mulutku. Aku kewalahan memainkan lidahnya yang liar. permainan kenikmatan permainan kami nikmati berdua. Ciuman panas & pelukan hangat seorang sahabat yang juga bernafsu.

Nadila melepas ciuman & pelukanku. Ia mengelap tubuh kami dengan handuk kering. Tak menyangka ranjangnya penuh dengan keringat & cairan kami berdua. Seheboh inikah permainan kami?

“Nat, buruan pake piyamanya gih, usah jam 4. Keburu ketahuan Kak Joel kelar dah” Nadila menunjuk jam di HP yang memang menunjukkan jam 4. Kak Joel biasanya bangun jam setengah 5. Kukenakan kembali piyamaku dengan tergesa-gesa, lalu bergegas kembali. “Aaaw!” Sial pun datang. Lututku mati rasa & aku tersungkur di lantai. Nadila mengangkatku & menuntunku kembali ke kamarku.

“Nad, jangan sampe berisik” Kubisikkan Nadila agar perlahan membuka pintu. Setelah pintu terbuka, ia rebahkan aku di sebelah Kak Joel. Ah, untunglah ia masih tidur lelap. Nadila menyelimutiku & menciumku. Aku pun benar-benar lelah.

Saat aku menjelajahi dunia mimpiku, seakan ada suara yang memanggilku.

“Nat, bangun, udah jam berapa ini?”

Suara itu berulang kali hingga tubuhku seperti diguncang. Kucoba membuka mataku. Kak Joel membangunkanku. Ternyata sudah jam 9.

“Emm maaf kak, hassyyuuu!” Aku bersin kencang sekali. Hidungku terasa tersumbat. Sepertinya aku pilek karena permainan semalam. Aku pun lemas.

“Hmm Nat, sarapan dulu gih, nanti minum obat”

“Kakak masak sendiri ya, badan aku lemes nih”

“Udah selesai kok, aku tau kamu lemes” Ia menyodori piring berisi mi goreng spesial telur. Ia menyuapiku pelan. Aku serasa kembali ke masa kecilku, pernah disuapi papaku.

Tubuhku benar-benar pulih, aku bisa berjalan. Aku harus ke kampus karena jam ujian mulai dekat. Untunglah ujiannya take home, jadi aku hanya mengumpulkan tugas. Tak seperti biasanya, tubuhku seperti tak mampu berdiri. Lututku sekarang agak mending, namun terasa berat.

“Kak, temenin dong, bentar aja”

“Serius? Entar dibocorin Shani gimana?”

“Bodo amat, lagian dia digosipin kepergok pacaran tuh”

“Eh masa? Fotonya yang mana?”

“Ah jangan tau deh kak, aku udah janji kalo skandalnya disebsar, hubungan kita bakal bocor”

“Hmm yaudah”

Tak sengaja, aku bertemu dengan Gery, teman sekelasku yang menyebalkan.

“Ehem jadian nih ya”

“Enak aja, ini kang ojek”

“Ojek pangkalan langganan temenmu” Kak Joel memotong pembicaraan agar tak semakin rumit.

“Oh gitu, buruan gih kumpulin ujiannya, tinggal punya lu”

“Ini juga mau ngumpulin, hus hus” Kuusir Gery agar tak mengganggu kami. Aku sebisa mungkin berlari meninggalkan Kak Joel karena aku segera mengumpulkan ujianku.

Setelah kembali, Kak Joel malah jongkok di bawah papan pengumuman.

“Kak, udah yuk” Kucolek lengan kanannya. Ia pun berdiri.

“Emm, kak”

“Apa Nat?”

“Kan bentar lagi aku mau 21 nih, kakak mau ngasih apa?”

“Yah, liat aja deh, kalo kakak kasih tau sekarang, bukan kejutan dong”

“Ah bocorin dong”

“Bocorannya tau pas ultahmu lah Nat”

“Ih kakak lho” Kucubit pinggangnya. Kutahu ia sedikit menggelinjang saat pinggangnya dicubit.

Malam hari, tanggal 27 Desember, setelah aku diajak makan malam bersama teman, tersisa aku & Nadila di sini. Kak Joel malah memintaku pergi menuju tumah kosong tempat latihan. Kutunggu dari jam 8 pun tak kunjung datang. Jam beranjak menuju pukul setengah 12 malam.

“Nat, pulang yuk” Nadila mengajakku pulang.

“Yuk, keburu tengah malam”

Kami pun berlari ke pintu keluar tempat latihan. Begitu mencapai pintu, sepertinya susah dibuka.

“Nad, kok susah dibuka ya?”

“Iya susah, keknya ada yang ngerjain nih Nat”

“Jangan negative thinking gitu ah Nad”

“Emm, biasanya sih kalo ada yang…”

Pintu pun bisa dibuka, bahkan lebar. Aku melihat jam di HP memang hampir jam 12 malam. Saat pintu terbuka, ada yang mengagetkanku.

“HBD Natalia!”

Ah, ternyata akal-akalan Kak Joel mengerjaiku. Tak cuma ia saja, ada Harry, staf bagian audio & 3 security theater : Babeh Jono, Babeh Iwan, & Babeh Susilo.

“Ih kakak bikin panik tau”

“Hehehe sengaja, akhirnya nyusul usia kakak aja” Ia memelukku erat & tentu saja ada sesuatu yang mengembang & mengganjal pelukan kami. Sebenarnya usia kami hanya selisih 9 bulan, tapi aku terbiasa memanggilnya kakak. Yang aku heran, bukannya membawa hadiah atau kue, justru membawa sesuatu dalam karung.

“Kak, itu apaan sih?”

“Udah, kamu bakal seneng kok. Kamu pasti pengen diajak party kan?” Harry membuat penasaran. Mereka pun masuk ke ruang tengah.

Lampu ruang latihan dinyalakan lagi, seperti halnya sewaktu kami latihan malam hari.

“Nah, kamu balik ke kamar, ini kostum yang harus kamu pake selama party, mau?” Kak Joel menyerahkan 2 kresek berisi kostum, tapi kok sedikit?

“Emm, maksud kakak apaan sih?”

“Kamu kan udah dewasa Nat, Nadila juga suruh pake, ini kostum party yang bisa bikin kamu pede”

“Emm, yaudah deh kak” Kuajak Nadila balik ke kamar. Kami pun penasaran & membuka kresek itu.

“Kak Joel serius suruh kita pake gini?” Nadila menunjukkan sepasang pakaian bikini. Wajahnya sedikit memerah.

“Lah iya ya, punyaku gini juga” Aku pun deg-degan, biasanya kami telanjang hanya di depan Kak Joel. Tapi mau bagaimana lagi, kami pun mengganti pakaian yang diminta.

Kami pun berjalan kembali ke ruang tengah dengan kondisi hanya mengenakan bikini. Tepuk tangan menyambut kami. Kulihat Nadila sedikit minder, mungkin karena ukuran dadanya yang lebih kecil dari dadaku.

“Nah, gini kan asik liatnya” Babeh Iwan pun semangat. Anehnya, ia hanya mengenakan boxer.

“Sekarang kalian perform Oshibe aja, gak usah banyak-banyak”

“Duh, Nat, gimana nih?” Nadila memegang lenganku.

“Aku yakin kalo yang handle Kak Joel pasti aman” Kuyakinkan Nadila agar ia tak merasa takut.

Musik Oshibe pun diputar Harry. Kami mencoba untuk menampilkan yang terbaik di pesta cabul seperti ini. Terpikirkan Nadila pernah digangbang. Wajah sedikit canggung terpampang jelas pada ekspresi Nadila. Lagu ini semacam cerita cinta terlarang. Tubuhku terasa dingin. Degup kencang pun mulai terasa. Ditambah saat mendekati lirik yang berbahaya. Kupikir Sinka bakal lebih lihai memainkannya, meski Nadila pernah juga.

Cinta itu selalu immoral
Hey, bibir yang mulai mendekat
Tidak boleh

Ah boleh lah

Jangan lah

Oh lucunya
Kita telah melewati batasnya & saling mencinta
Sudah, nafas pun menjadi panjang
Panas sekali insting ini
Menakutkan, menyerahlah
Sari bunga & kupu-kupu malam

Nafas kami tak teratur saat kami menyanyikan lirik barusan. Kuharap Kak Joel & Harry tidak melanjutkan ke hal yang parah.

Hingga kemudian, kami sampai ke titik panas lagu ini.

“Kalau dilihat orang bagaimana?” Nadila membuka dialog di lagu ini. Keringat kami mulai bercucuran. Ini dialog yang berbahaya.
“Ya sudah, tunjukkan saja” Kucoba menenangkan diri.

“Kamu cinta sama aku?”
“Hu… hu… hu… gimana ya?”
“Hey, cinta enggak?”
“Ayo kesini”
“Kakak” Nadila mendekat ke arahku.
“Iya-iya anak baik”

Nadila langsung memelukku & kami berciuman bibir secara cepat. Suara riuh dari yang menonton kami & tepuk tangan menyambut ciuman kami.

“Aahh terus woi, ngocok nih” Suara itu dari Harry.

“Bangke lu Har, belum-belum udah sange” Kak Joel membalasnya.

“Rame ae bos” Babeh Susilo yang dikenal paling cabul itu melerai mereka. Kami pun melanjutkan nyanyian kami sampai habis. Lagu ini memang sangat panas.

Tiba-tiba, ada seorang pria yang nekat lari ke arah kami. Aku tak bisa melihatnya secara jelas karena larinya cepat & lampunya agak redup. Orang itu langsung menyergapku & mendorongku hingga jatuh. Ia nekat mencium bibirku.

“Mmmhh mmmhh” Ia sangat kuat memainkan lidahnya hingga mulutku yang kututup rapat pun melemah. Aku terpaksa membalasnya.

“Ih apaan sih main cium mulu” Kudorong pria itu.

“Kakak sange Nat” Ia memanggilku seperti itu, sepertinya aku kenal lebih dalam.

“Ih Kak Joel, risih tau” Kupukuli dadanya agar ia pergi. Bukannya pergi, ia malah memeluk Nadila dari belakang & menciumi leher Nadila.

“Aaahh cukuuup kaaak ooooh” Nadila menggelinjang saat Kak Joel aktif meraba dadanya dari belakang.

“Woi, Nadila tak pake” Babeh Iwan yang beringas memeluk Nadila dari depan.

“Terserah” Kak Joel melemparkan Nadila ke Babeh Iwan.

“Babeeeh ooohhh” Nadila justru kegirangan saat ciuman Babeh Iwan menyasar ke dadanya dari luar BH.

Kak Joel menarik tanganku & memaksaku berjongkok.

“Nih kocokin!” Kak Joel sudah melepas celananya & penisnya mengacung.

“Please kak jangan di…”

“Dek kocokin juga” Harry juga menyodorkan penisnya & menggesekkannya di pipiku. Mau tak mau aku harus mengulumnya.

“Bangsat lu Har, gua mau disepong juga” Kak Joel semakin beringas saat batangnya kukocok kasar.

“Antri dulu tong” Harry lakukan deep throat hingga aku terbatuk.

“Bangke lu tod” Kak Joel memaksa memasukkan penisnya ke mulutku. Aku pun kewalahan mengulum 2 batang kejantanan mereka. Sodokannya bergantian & kasar seperti digempur terus-menerus.

“mmhhhh” Aku tak tahan dengan deep throat 2 penis. Aku tiba-tiba ambruk.

Aku serasa diperkosa hari ini. BH tali kecil yang kukenakan pun ditarik paksa Harry hingga payudaraku terpampang jelas. Kak Joel malah menarik celana dalamku & vagina mulusku kini tanpa penghalang. Aku masih bisa berontak, namun tenaga 2 pria itu mengurangi pergerakanku. Harry dengan ganasnya melahap puting kananku.

“Aaaahhh kaaaak jangaaann” Rasa geliku tak bisa kutahan, ditambah dengan liukan maut lidah Kak Joel di bibir vaginaku. Aku lihat Nadila digerayangi tiga satpam theater, persis dengan kejadian waktu itu.

“Babeeehhh aaaaaahh” Nadila melenguh panjang & mengejang akibat obokan jari tengah di vaginanya.

“Woi, sampe Nadila bunting, tak pecahin biji sampeyan satu-satu!” Kak Joel menunjuk ketiga satpam theater itu dengan nada naik.

“Aman bos, kami pake durex” Babeh Jono menunjukkan 3 bungkus kondom & membagikannya.

Kak Joel & Harry menghentikan serangannya. Aku ingin berlari & berniat mengenakan pakaian kembali. Nadila pun sudah siap untuk melayani nafsu orang bejat itu.

“Mau ke mana sayang? Party belum selesai, kamu kan yang ngajak party?” Kak Joel mendekapku dari belakang.

“Kak, tapi…”

“Nanti kamu suka kok, selain kakak, semua cowok wajib kondom”

“Emm kak, please…”

“Wah, please lanjut?” Ia memelintir putingku hingga aku takluk. Saat tubuhku lemas, aku dibawa kembali ke ruang tengah.

“Bro, lu siapin nih” Kak Joel memberikan tali tambang ke Harry.

“Please kak, jangan gini”

“Ah nanti kamunya enak kok Nat” Harry nekat mengikatkan tanganku & melilitkan talinya di tubuhku hingga payudaraku benar-benar menonjol & mengikat perutku. Sisa tali di tanganku ditarik Kak Joel sehingga tanganku ditarik ke belakang.

Kak Joel mengambil dildo berduri silikon. Perlahan, dildo itu ia gesekkan di bibir vaginaku. Begitu berhasil merangsek masuk, dildo itu menghujam keras mulut rahimku & menggesek dinding vaginaku dengan kasar.

“Aaaaaaahh kaaaaakkhh” Aku merasa benar-benar tersiksa. Belum lagi Harry kembali memaksaku mengulum penisnya.

“Kaaak cukup…” Tak butuh waktu lama, ia menyodok tenggorakanku & memaju mundurkan pantatnya, sesekali menjambak rambutku. Aku pun berusaha mengisapnya sambil kujilati batang kejantanan orang yang bukan milikku.

“Mmmhhhhhh” Kepalaku ia goyangkan juga hingga kepalaku & selangkangannya bertabrakan.

Sementara itu, dildo yang Kak Joel mainkan semakin kasar. Duri-duri silikonnya sangat menyiksa. Tapi lama kelamaan siksaan itu menjadi kenikmatanku. Jempol pacarku itu memainkan klitorisku. Tubuhku benar-benar menggelinjang hebat & menggeliat seperti cacing kepanasan.

“Mmmhhhhhhh” Desahanku yang tersumpal penis pun semakin membuat nafsuku benar-benar memuncak & sangat menikmati, meski kepalaku pusing sekali akibat hentakan penis Harry dengan mulutku.

“Oooohh Naaat hampir saaampeee” Harry semakin kesetanan deep throat. Aku pun kewalahan mengulumnya. Kubalas dengan jilatan tiap sisi penisnya. Kusedot kuat agar ia melemah. Aku pun belepotan karena lubang vaginaku juga digempur kasar dengan dildo berduri silikon.

“Mmmhhhh aaaaaahhh” Aku pun menggelinjang hebat & kulumanku terlepas. Aku orgasme hebat.

Aku terjatuh tengkurap karena Kak Joel melepas pegangan talinya pada tanganku.

“Aaaahh” Harry menumpahkan spermanya di wajahku. Untung saja tak kutelan. Hampir sebagian besar wajahku basah.

“Kaaak, maaf aku gak bisa telan…”

“Gak apa-apa, aku gak mau kena marah cowokmu”

“Jadi, kamu tau hubunganku?”

“Ya emang, tenang aja kok, kalo hubungan kalian bocor, hubunganku sama Lidya bisa bocor juga. Intinya kami saling jamin rahasia” Ia membiarkan spermanya mengalir di wajahku.

Kucoba melihat Nadila, ternyata ia tinggal bersama Babeh Susilo. Sedangkan Babeh Jono & Iwan sudah tepar.

“Aaahh mantap deeek” Ia melepas kondomnya & menumpahkan spermanya di punggungnya. Ia terlihat lebih kuat dibanding teman-temannya. Ia membiarkan Nadila tepar di sisi stage. Babeh Susilo pun mendatangiku.

“Nat, anal yuk”

“Bangke, pake lagi kondomnya, selain pacarnya, semua wajib kondom. Aku deep throat, Susilo memek, Harry anal” Kak Joel melempar kondom ke Babeh Susilo & Kak Harry.

“Jangan anal gih, kasian” Harry protes.

“Apaan? Udah gua jebol anusnya. Kalo gak mau, bisa tukeran”

“Kak Joel, please jangan deep throat, sini aku kocokin. Please lepasin talinya di tanganku kak”

Kak Joel melepas tali yang mengikat tanganku. Ia yang dari tadi sudah telanjang bulat pun menyodorkan penisnya untuk kukocok.

“Abis ini kamu emut ya”

“Hmm, yaudah deh” Aku pun mengocok penis pacarku.

Harry & Babeh Susilo sudah menggunakan kondom. Aku dari tadi menungging pun nyaris terasa kehilangan keseimbangan. Aku masih belum siap untuk double penetration.

“Hayuk dek, ditahan” Babeh Susilo sudah dari tadi menggesekkan penisnya di lubang anusku. Harry menyusup di bawah tubuhku & menggesekkan penisnya di bibir vaginaku. Rasanya kasar sekali karena karet itu.

“Udah eksekusi aja, lama amat main gesek, gak kebagian lobang” Kak Joel kesetanan saat kukocok.

Permainan pun dimulai. Saat Kedua batangan itu serentak masuk ke kedua lubang selangkangan itu.

“Aaaakkk saakittt” Sakitnya selangkanganku saat penis mereka menyeruak masuk.

“Wah anusnya gak sempit lagi” Babeh Susilo sedikit kecewa & memacu sodokannya.

“Aaaahhh aaahh aaampuuuun” Aku tak kuat double penetration. Harry semakin kesetanan menggenjotku dari bawah & meremas payudara kananku.

“Aaahh kocok terus Naaaat oohhh” Kak Joel keenakan, padahal kocokanku kasar sekali & kuremas kuat karena refleks rasa sakit. Rambut panjangku dijambak dari belakang hingga kepalaku mendongak.

“Aaaah mantap dek” Hentakan Babeh Susilo yang kasar menghantam tiap sisi anusku sampai ke dalam. Vaginaku dihajar keras secara brutal, kira-kira hingga menabrak keras mulut rahimku. Penis Harry sangat kesat karena kondomnya, ditambah lagi temponya cepat sekali.

“Aaaaaaakkk aampuun ooohh ohhhh” Sodokan kedua penis dari selangkanganku semakin kasar. Rasanya seperti terbakar akibat gesekan cepatnya. Ditambah lagi kedua payudaraku kini dicengkram kasar Kak Joel. Aku tak konsentrasi mengocoknya lagi. Ia malah menyodok mulutku secara kasar.

“Oookhh terus Naat” Kak Joel tak memberiku ampun saat deep throat.

Ikatan tali di tubuhku semakin menyiksaku. Tapi aku mendapatkan nafsu besar dari permainan ini. Ah aku jadi tak menentu. Gempuran depan & belakang menambah sensasi yang berbeda dari nafsu seksualku. Nafasku tak teratur, ditambah aku harus melayani kuluman pacarku sendiri. Kucoba tak mengenai gigi & kujilat sebisaku.

“Oohhh Naat teruss, jadi pinter gini” Kak Joel menggoyangkan kepalaku & menghantam pangkal penisnya.

“Ummm mmmhhh mmhhh” Aku hampir kehabisan nafas. Kedua putingku dipelintir kuat, terkadang jempol Kak Joel & Harry menggelitik kedua putingku. Tubuhku benar-benar menggelinjang. Sodokan Kak Harry tak terarah, bahkan sampai menghantam area sensitifku di dalam vaginaku.

“Mhhhh mmmhhh”

“Aaahh mantap goyangnya Nat, ooohh” Harry blingsatan memainkan penisnya mengaduk vaginaku hingga terasa panas.

Tubuhku terasa memberontak seperti ingin mengeluarkan sesuatu. Otot vaginaku berkontraksi mencengkram kuat penis Kak Harry. Seharusnya aku tak nafsu dengan pria lain. Tapi jebakan pacarku sendiri memang membuat aku tak bisa keluar sebelum mereka mencapai klimaks. Sodokan di anus yang terlalu cepat dari Babeh Susilo yang cabul mempercepat puncak nafsuku. Belum lagi deep throat Kak Joel yang semakin brutal hingga aku tak mampu mengulum dengan sempurna. Mulutku mati rasa, juga lidahku akibat gesekan kasar Kak Joel. Geliat tubuhku semakin tak teratur. Kejang pun menyerang tubuhku.

“Mmhhh mmhhhh uuhhhhhh mmhhhh aaaaaahh aku sampeeee” Kulumanku terlepas & aku orgasme. Kekuatan tubuhku hilang mendadak hingga jatuh di atas tubuh Harry. Belum sampai kepala kami bertabrakan, Kak Joel menjambakku.

“Woi sadar itu bukan cowokmu!” Ia melemparkan tubuhku di atas lantai. Aku terlentang & merasakan pusing.

“Aahhh nanggung, nyoba Nadila woi”

“Siap babeh, lu ikutan gak Joel?”

“Wah ayo aja dah, garap aja, tuh Iwan sama Jono tepar duluan, kampret” Kak Joel menciumku meminta persetujuan gangbang Nadila. Aku hanya menganggguk pelan.

Babeh Jono & Babeh Iwan melebarkan pahaku.

“Ampun babeeeehh” Kututupi lubang vaginaku sebisa mungkin. Tapi sayang, aku kalah tenaga dengan 2 satpam itu. Tanganku diikat di pagar tangga & paku besar di tembok seberang hingga tubuhku sedikit menggantung.

“Please jangan anal…” Aku memohon Babeh Iwan agar titubuhkuasukkan penisnya ke anusku.

“Yang mau anal siapa mbak, sini duduk sama om” Babeh Iwan mengarahkan penisnya.

“Woi mbak, sepongin dong” Babeh Jono membalikkan tubuhku. Aku pun melakukan reverse cowgirl. Kududuki selangkangan Babeh Iwan & menggoyangkan pantatku.

“Oohhh mantap mbak, gak nyesel bisa ngewe lagi” Babeh Iwan kesetanan menampar pantatku saat bibir vaginaku menggesek kepala penisnya.

“Awww” Pantatku sakit akibat tamparannya. Penis kesatnya karena terbungkus kondom pun terasa perih, namun nikmat.

Tangan Babeh Iwan menekan pinggangku ke bawah. Penis tegaknya langsung menyeruak masuk ke liang kewanitaanku.

“Kyaaaaa sakit beeeeehh” Belum selesai aku teriak, penis Babeh Jono sudah membungkam mulutku. Kusedot kuat penisnya & pantatku harus bergoyang naik turun memuaskan nafsu Babeh Iwan. Otot vaginaku sedikit mengejang akibat hujaman pantatku sendiri.

“Mmhh mmhhh mmhhh mmmhhh” Kupejamkan mataku karena perih akibat hujaman batang kejantanan di mulut & liang kewanitaanku. Babeh Jono menjambakku & menekan kepalaku mendekati selangkangannya & batangnya hampir menyentuh pangkal mulut. Rasa mual muncul tiba-tiba begitu deep throat berulang kali.

“Aah enak mbaaaak” Babeh Iwan menghentakkan adik kecilnya hingga menghujam mulut rahimku yang terasa panas. Sodokan itu membuat kepala penisnya nyaris masuk ke tenggorokanku. Nafasku hampir habis.

“Uhuk uhuk, huek” Aku pun menjulurkan lidahku & seakan ingin memuntahkan sesuatu, namun perutku terasa kosong. Asam lambungku naik hingga terasa sensasi panas di dada & naik ke mulut.

Kulihat Kak Joel berlari ke arahku setelah menumpahkan spermanya di payudara Nadila.

“Kamu gak apa-apa Nat?”

“Kak, aku gak kuat…”

“Eh maaf bos, sayanya keenakan deep throat”

“Semprul Jono, hampir mati gara-gara kontol sampean. Udah, ambil minum” Ia mendorong Babeh Jono dengan kaki kirinya. Bukannya menghentikanku, Babeh Iwan malah menggenjot jalan lahir milikku secara kasar.

“Aaahhhh cukup beeeehhh ooohhhhh” Mataku kututup sangat rapat menahan sakitnya hardcore Babeh Iwan hingga berulang kali menghantam titik sensitifku & mulut rahimku.

“Bangsat, woi stop!” Akhirnya Kak Joel membawa botol air minum & ia meminumkanku. Dadaku terasa segar lagi.

Dengan posisi menggantung, aku sedikit menungging akibat sodokan Babeh Iwan yang dilanjut dengan tempo cepat.

Aaaaaaaahhh aaaahh saakitt beeeh oooohh oohhhh ” Babeh Iwan pun menampar pantatku sambil memainkan daging kecil dekat lubang kenikmatan pria. Belum lagi kedua bongkahan payudaraku diremas Kak Joel & Babeh Jono. Keringatku membasahi tubuhku & menetes dari tali tambang yang mengikatku.

“Nat, aku gesek-gesek aja di sini” Kak Joel menggesekkan penisnya di ketiak kananku, disusul Babeh Jono menggesekkan benda pusakanya di ketiak kiriku. Rasanya geli sekali.

“Aaah aah aahhh aahh ooohh mmhhh” Rasa sakit & nikmat yang kurasakan menyebabkan tubuhku mengejang & bergetar.

“Yang keras desahnya!” Kak Joel meremas kuat payudara kananku & putingku mengeras. Sensasi itu menyebabkan tubuhku semakin menggelinjang. Getaran-getaran nikmatku timbul dari selangkanganku. Kedua payudaraku, ketiakku, klitorisku, vaginaku, bahkan anusku diobok Babeh Iwan memperbesar nafsuku.

“Aahhh aaah aaku sampee aaaahh” Pantatku menungging & aku orgasme lagi. Otot liang kewanitaanku berkedut kencang. Hampir setiap sendi tubuhku kehilangan tenaga.

“Cewek sampean gampang becek mas” Babeh Iwan mencabut penisnya. Dengan mataku yang samar-samar, Nadila tampak kelelahan dengan berkubang keringat & bibit masa depan para pria, namun ia sambil memasukkan jarinya ke vaginanya sambil mendesah pelan.

Lantai pun becek dengan keringat kami, & tentu saja cairan orgasmeku yang sempat keluar. Aku tergantung di antara pagar tangga & paku tembok karena ikatan tali tambang.

“Sus, sini dulu, lepas tali tangannya, ini ronde terakhir” Kak Joel menunjuk tali tanganku & Babeh Susilo melepas talinya. Aku pun sedikit lega, setidaknya tali di tanganku bisa dilepas.

“Joel, please lah jangan anal, gak suka gua” Harry protes dapat bagian analku.

“Bacot, enak tong, gua anal Nadila tadi ena” Kak Joel mengangkat tubuhku yang basah kuyup akibat keringatku sendiri.

“Yaudah deh, gua anal dah”

“Har… ampuun”

“Eh, lagian kita pernah anal kan Nat?” Kak Joel membisikkanku.

“Emm, tapi…”

“Katanya ngajak kamu party Nat” Harry pun menjatuhkan tubuhku perlahan ke tubuhnya, Tapi ia mengangkat tubuhnya sedikit. Aku pun mengangkang & tanganku bertumpu di bawah.

“Woi terakhir nih, lepas kondom semua!” Kak Joel mengajak lepas kondom. Harry pun lepas kondom juga & melemparkannya ke jendela yang mengarah ke taman & kolam.

Satu per satu penis digesekkan ke tiap tubuhku. Babeh Susilo menggesekkannya di bibirku. Babeh Iwan menggesekkannya di ketiak kananku, sedangkan ketiak kiriku digesek penis Babeh Jono. Jujur saja banyak fans yang fetish dengan ketiakku. Kak Joel bersiap di vaginaku. Anusku ditusuk pelan Harry.

“Aauu” Anusku menegang saat Harry menusukkannya perlahan.

“Aaahhh” Kak Joel pun mulai menghujamkan penisnya ke dalam. Perih sekali, serasa tak memberi ampun padaku.

“Aseeek jarang denger member mendesah bos” Babeh Iwan blingsatan menusukkannya pada lipatan ketiakku. Disusul dengan gesekan kasar Babeh Jono yang nafsunya besar sekali. Saat mulutku terbuka, Babeh Susilo menghujamkannya sampai tenggorokanku.

Tempo hujaman di anusku semakin kasar. Aku pun goyah & penisnya semakin dalam menghujam akibat jatuh. Kak Joel mengangkat pantatku & menghujamnya. Hujamannya ke sisi lubang kewanitaanku. Titik sensitifku ia serang juga. Tubuhku menggeliat tak jelas begitu klitorisku ia mainkan juga secara kasar.

“Mmmhhh mmmhhh uuuhhh uhhhh” Aku ingin mengerang akibat hujaman 2 lubang selangkanganku. Ditambah lagi dengan sensasi geliku karena kedua ketiakku digesek kasar. Mulutku tersumpal batang kejantanan Babeh Susilo. Kusedot kuat benda itu & kujilatinya.

“Aaahh mantap mbak sepongannya, terus, ooohh” Babeh Susilo menghujamkan penisnya lebih dalam. Aku takut asam lambungku naik lagi. Tak sadar otot vaginaku berkedut kencang.

“Aahh aaahh beeeb aaahh jepiiit” Kak Joel mengerang keenakan menghujam vaginaku.

Karena terbawa irama, pantatku naik turun sendiri akibat hujaman kasar 2 staf bejat itu. Belum lagi gesekan di ketiakku terkadang brutal hingga menyenggol putingku yang mengeras.

“Mantaaap aaahh Naaat” Kak Harry kesetanan menghujam anusku. Isi dalam perutku bergoyang tak jelas.

“Mmmhhhh mmmhhhh mmhhh ssshhhhh” Mulutku belepotan liurku akibat hujaman keras Babeh Susilo.

“Gila, toketnya asli” Babeh Jono mempercepat gerakannya pada payudara kiriku. Ah, putingku mengeras sekali.

“Asal gak kayak Viny, tepos Jon” Babeh Iwan mulai loyo menggesekkan penisnya. Ia hanya menggoyangkan batangnya di samping leherku.

“Ah kampret, udah loyo” Kak Joel melihat Babeh Iwan mulai tak kuat menambah temponya. Bibirku tak kuat lagi menggesekkan benda kesayangan Babeh Susilo. Daya sedotku kurang kuat. Tubuhku terasa lelah.

Tubuhku semakin menggelinjang hebat. Kenikmatan permainan ini hampir mencapai puncaknya. Babeh Susilo mencabut penisnya dari mulutku & menggesekkannya pada pipiku.

“Aaahh aahhh aaahhh ssshhh ooohh” Otot selangkanganku mulai kontraksi & menjepit apapun yang ada di kedua lubang di selangkanganku.

“Ooohh Naaat sempiit, kakak hampir sampeeee” kak Joel semakin beringas menyodokku.

“Jangan di dalaaaaam” Aku ingat jika hari ini mendekati masa suburku.

“Oohhh crot di muka enak nih” Babeh Susilo mulai menggelinjang, disusul Babeh Jono & Babeh Iwan.

“Bangke, awas kena gua” Harry mencabut penisnya lalu berpindah posisi ke dahiku. Keempat pria itu mengocok penis masing-masing di sekeliling wajahku, sedangkan Kak Joel masih kesetanan menghujam vaginaku.

“Oohhh sampeeee Naaaat” Kak Joel langsung mencabut penisnya & memajukan pantatnya. Tentu saja ia memuntahkan spermanya yang banyak hingga mengenai rambutku.

“Ooohh Naaaaaat” Keempat pria lain menyusul ejakulasinya, banyak sekali. Wajahku nyaris tertutupi cairan bibit generasi penerus mereka.

“Ahhhhhh” Aku pun orgasme menyusul mereka. Tumpuan tubuhku benar-benar hilang. Aku terjatuh di lantai yang basah kuyup akibat sisa pertarungan 5 pria melawan diriku. Nafasku sesak & terbatuk karena sedikit cairan amis itu masuk hidungku.

Kesadaranku hampir hilang akibat permainan kasar mereka. Tali yang mengikatku benar-benar menyiksaku saat mengambil nafas yang banyak.

“Bro, mending lu lepasin tali cewek lu, gak tega” Kudengar sayup-sayup suara Harry meminta pacarku melepaskan talinya. Ia pun melepas talinya. Kini aku benar-benar bebas, namun aku kehabisan tenaga sekarang. Entah pandanganku semakin kabur & gelap di kubangan cairan sisa party.

Tubuhku serasa dingin & ada cahaya yang menyilaukan mataku. Kubuka mataku meski berat sekali. Ah, sepertinya aku di tempat yang kukenali. Kasur dominasi putih, wastafel di seberang ranjang. Jendela kamar di samping kanan ranjang. Aku tak yakin dengan apa yang kulihat. Kucoba mengucek mataku, namun sama saja. Antara dunia mimpi & dunia nyata masih bercampur menjadi satu. Ditambah lagi dengan pakaian yang aku kenakan : tanktop putih dengan celana pendek ketat.

“Halo Nat, akhirnya pacar kakak udah bangun”

“Kak Joel…” Kupeluk ia dengan tubuh yang lemas.

“HBD ya sekali lagi, ini tanggal 28 Desember lho” Ia memelukku erat & penuh perasaan.

“Kakak gak ngasih apa gitu?”

“Heheh, tunggu aja, yang penting kakak doain agar kamu semakin dewasa, selalu diberkati, tambah seksi aja…”

“Ih kakak kan aneh-aneh” Kucubit pipinya karena aku gemas dengan harapannya barusan.

“Ya karir & kuliahnya sukses ya” Ia melanjutkan harapannya padaku sambil memberikan 2 kotak dengan ukuran yang berbeda.

Aku pun bingung mana yang harus kubuka terlebih dahulu.

“Terserah kamu, yang lagi ultah bebas, tapi ini semua untukmu”

“Beneran kak?”

“He’em, buka aja”

Aku pun membuka kotak besar dulu, sepertinya bukan alat elektronik. Kotak yang terbungkus kertas kado motif batik itu kubuka hati-hati dari sambungan antarkertas.

“Wah, makasih kak, dari dulu aku suka ini” Kutunjukkan isi kotak besar itu, yaitu jaket parka hitam ukuran L.

“Kakak tau kamu kadang suka pake jenis kayak gini, makanya kakak beliin”

Aku senang sekali. Kini tak perlu pinjam jaketnya saat kedinginan di kampus.

Aku penasaran dengan kotak merah kecil yang belum kubuka. Aku malu bertanya isinya pada Kak Joel. Kubuka kotak kecil itu. Rupanya kalung perak motif hati kecil. Ia memasangkannya pada leherku.

“Kakak pengen banget kamu pake ini, cantikmu nambah kalo pake ini”

“Ah, thanks kak, kalo pun kakak gak ngasih apapun aku gak marah kok, soalnya kakak kado terindah aku”

Kukecup bibirnya perlahan, lalu lidahnya bermain di mulutku. Air liur kami bercampur & nafas kami beradu.

“Kak”

“Em?”

“Kakak semalem kenapa iket aku waktu gangbang?”

“Oh iya, kamu belum tau ya, itu namanya BDSM, ceweknya diikat, kadang digantung, mainnya brutal”

“Oh gitu, aku malah rasanya beda banget. Untung aja yang punya ide kakak, kalo orang lain gak mau aku”

“Kapan-kapan BDSM lagi yuk Nat”

“Ah Kak Joel nih seneng kalo aku disiksa. Eh kak, nanti malem aku gak theateran dulu deh, dirayain kapan-kapan aja”

“Januari?”

“Maybe, lagian aku pengen quality time sama kakak, hitung-hitung istirahat kak, soalnya gila banget mainnya”

“Terserah kamu” Ia melingkarkan tangan kanannya & menciumi pipiku.

“Nat, HBD ya, jadi kakak angkat aku yang gak ngeselin, sukses juga” Nadila membuka pintu kamarku & berjalan agak sempoyongan akibat semalam juga sambil membawakan es krim seliter kesukaanku yang di atasnya diasang lilin kecil.

“Makasih juga ya Nad, sesama anak rantau yang ngertiin aku juga” Kutiup api lilinnya & membuka tutup es krim kesukaanku. Nadila juga menciumku. Lalu, kami memakannya bertiga.

Related Post