cerita panas

Ibu Kosan yang Butuh Kenikmatan

Sebagai mahasiswa dari daerah, gue masih lugu banget tentang kehidupan di Jakarta. Gue gak punya keluarga sama sekali di sini, jadi Gue tinggal di rumah kos yang dikelola oleh Ibu Heny, wanita kira-kira umurnya empat puluh tahunan. Ibu kos ini gak punya suami, tapi katanya punya anak, hanya saja anaknya tinggal bersama neneknya. Dia tinggal bareng dua orang pembantu di rumah yang lumayan gede itu. Gue sendiri memilih kos di rumah Ibu Heny karena lokasinya yang deket sama kampus. Rumah kos itu terdiri dari banyak kamar, yang dihuni oleh mahasiswa/mahasiswi di kampus gue juga.
Gue pilih kamar yang paling murah dengan fasilitas sederhana, letaknya paling belakang, pojok dekat dengan kamar pembantu. Sengaja pilih kamar ini, kalau pilih kamar yang atas, bisa bangkrut gue hehehe.
Pergaulan di kosan tampak acuh tak acuh, lo ya lo, gue ya gue, jangan urus masalah gue, gue gak akan urus masalah lo, kayak gitu deh kira-kira. Gue sendiri cukup minder disitu, mungkin karena gue yang paling ‘kere’ dibanding anak kosan lainnya.
Biarpun begitu, bisa dibilang gue anaknya cukup asik. Dibanding anak kosan lain, gue yang paling sering buat ngajak ngobrol Ibu Heny. Yang lainnya sibuk banget gak punya waktu, gue bahkan pernah diajak makan di ruang makannya yang bagus banget. Ibu Heny ini orangnya ramah banget, lembut, sopan santunnya juga tinggi. Dia bahkan suka maklum kalau gue telat bayar kosan hehehe. Kalau kamar yang lainnya, ada yang sering telat bayar kosan akhirnya disuruh pergi cari kosan lain.
Kebanyakan dari penghuni di sini adalah wanita, dan Ibu Heny tidak suka dengan mereka. Gue pernah loh nunggak sampe tiga bulan, tapi Bu Heny gak marah dan nerima penjelasan gue. Bu Heny cuma bilang, “It’s okay, gak masalah kok.” Sambil senyum bales penjelasan ane. Jawabannya itu loh yang bikin gue suka ke-geer-an dan bikin bingung, kenapa dari semua penghuni, cuma gue yang dapet perlakuan istimewa?
Jawaban dari pertanyaan gue terjawab di suatu malam dengan hujan lebat kira-kira jam 11.00 malam, dimana rumah kos lagi sepi banget dan sebagian penghuni pulang kampung karena lagi liburan panjang. Kamar gue yang dibelakang dan pojok, malam itu bocor, gentengnya udah gak karuan. Kasur gue basah kuyup dan gue kewalahan menghadapi ujan sialan itu. Gue cuma bisa mojok sambil kedinginan. Tiba-tiba pintu diketuk dari luar, gue membukanya dan astaga! Ibu Heny datang.
“Kamar kamu bocor ya, Nandry? Yuk, pindah diatas saja, daripada kamu jadi gak bisa tidur…” Tawar Ibu Heny.
Gue mengangguk dan tanpa pikir panjang langsung bergegas pergi ke kamar atas bareng Ibu Heny. Gue diajak ke kamar dia dan gue diberikan handuk buat ngeringin rambut yang kena bocoran air hujan di kamar. Gue nurut aja perintahnya, disuruh sekalian mandi air hangat di kamar mandi pribadinya. Kapan lagi kan? Kesempatan bisa mandi di kamar mandi yang bagus.
Selesai mandi, gue keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di bagian perut, hanya untuk menutupi bagian vital saja. Begitu gue liat Bu Heny, gue kaget banget, dia udah ganti pakaian dengan busana tidur yang tipis, gak pakai BH dan bagian bawahnya juga begitu keliatannya, gaun yang lumayan transparan diterpa lampu kamar yang terang benderang.
Bu Heny berdiri dihadapan gue, gue sempet gugup dan salah tingkah. Tiba-tiba dia menarik lengan gue, gue dipeluknya dan bibir gue dicium dengan ganas. Kontan aja handuk yang gue pake langsung lepas dan meninggalkan gue bugil.
Gue masih terdiam, gak tau mesti ngapain. Tangan gue ditarik Bu Heny, ditempelkan ke teteknya yang besar itu.
“Remas-remas dong, sayang… Remas yang mesra ya…” Pinta Bu Heny.
Gue melakukannya, gue elus dan remas-remas tetek itu dengan perlahan.
Bu Heny menggeliat, posisi kami masih berdiri tegak, batang kemaluan gue udah berdiri tegak pula, besar dan kencang. Bu Heny melepas pelukannya dan menatap gue sambil tersenyum manis.
“Bingung ya?” Tanyanya. Gue ngangguk tersipu.
“Jangan takut, enggak ada siapa-siapa disini, gak ada yang berani ke kamar aku. Kamu suka?” Tanya nya lagi sambil menekan tangan gue yang masih nempel di teteknya.
Bu Heny menuntuk gue ke pinggir kasurnya. Dia merebahkan tubuhnya dengan kaki menjulur ke luar tempat tidur. Posisi menantang sekali. Leuk tubuhnya tampak jelas sekali menerawang dari gaun transparan itu. Gue masih berdiri bugil. Gue perhatikan meki Bu Heny yang udah basah dan keliatan seksi itu. Dia ngasih isyarat biar gue mendekat. Setelah gue duduk disampingnya, dia langsung buka gaunnya, sekarang kami berdua sama-sama bugil.
Jari Bu Heny mengelus batang kemaluan gue, sambil mendesah, menarik nafasnya panjang. Keliatan bu Heny birahi sekali. Gak lama, bu Heny menjilat konti gue, dari mulai biji kemaluan, sampe ke ujung kepala konti gue. Terus diisapnya dengan penuh penghayatan. Matanya merem melek. Dikocok-kocoknya konti gue, karuan aja makin tegang dan makin besar.
“Wah, besar sekali, Nan…” Gumam bu Heny terkagum-kagum. “Kamu macho, jantan sekali. Tidak salah aku memilih kamu, kamu masih muda dan punyamu super!” Sambungnya sambil mengocok-ngocok konti ane.
“Kita main di sofa aja ya…” Ajaknya mesra.
“Baik, Bu…” Jawab gue.
“Jangan panggil Ibu dong, panggil aku Ratna aja, begitukan lebih dekat rasanya..”
Kami pun pindah ke sofa, aku disuruhnya duduk, sementara dia mencari sesuatu di laci yang terletak di samping sofa.
“Aku udah rencanain ini semua buat kamu, Nan. Pakai ini ya….” Kata Bu Heny sambil membuka kondom dengan bungkus berwarna kuning keemasan. Gak tau kenapa harus kondom itu, tapi yang jelas gue udah gak sabar buat masukin konti gue ke meki bu Heny.
Begitu kondom sudah terpasang, dia naik diatas gue dan langsung memasukan kemaluan gue ke dalam lubang mekinya, lalu beraksi dengan gerakan naik turun, mengocok-ngocok kontol gue.
Gue peluk dia, gue ciumin teteknya, dia makin bernafsu. Diluar hujan makin lebat dan angin bertiup kencang. Malam itu kita larut dalam buaian surga dunia yang indah dan nikmat sekali.
Heny orangnya nyentrik sekali, dibagian bahunya ada tattoo kupu-kupu. Gaya hidupnya juga kayak anak muda. Meki Heny pulen sekali rasanya. Tubuhnya langsing, tinggi, rambutnya sebahu dan lebat sekali, sama lebatnya dengan bulu mekinya itu.
Kami bertempur habis-habisan di atas sofa.. Gue masih dibawah, dia diatas. Goyangannya indah sekali, tampak profesional sekali buat melayani gue.
“Kamu sering jajan ya, Nan?” Tanya nya sambil masih menaik turunkan pantatnya diatas gue.
“Maksudnya apa, Heny?” Gue balik nanya.
“yah, itu tuh. Sering cari jablay buat main sama kamu?”
“Ah, mana saya punya uang buat yang begitu…”
“Tapi mainanmu lihay sekali nan…” Jelasnya sambil merem melek, “Nyodoknya juga oke banget, aku sudah dua kali orgasme loh…” Sambungnya memuji gue.
Gue diem aja, masih menjilati teteknya yang besar dan montok itu.
“Sekarang kita main di tempat tidur. Kamu diatas ya…” Pinta Heny.
Kami pun pindah ke atas ranjang. Gue diatas. Gue peluk erat sekali, bibir gue dilumat habis oleh Heny. Permainan yang hot sekali.
“Sudah lama aku kesepian, tolong puasin aku ya nan. Sepuas-puuasnyaaa…” Pintanya sambil menahan erangan.
“Sampai pagi?” tanya gue.
“Iya kalau perlu. Remas teteku, nan! Goyang yang kenceng! Terus nan, terusss, makin dalem nannn ahhhh” Racau Heny semakin tidak jelas. “Jilati tetekku, nan, aku sudah mau keluar, keluar bareng yaaa…” Pintanya memelas.
Gue mengangguk tanda setuju. Secara reflek, bu heny menggoyang pinggulnya dengan gerakan memutar, gila banget goyangannya, gue dibuat klenger gak nahan dan,
“Aaaaaaaaahhhhhh, aku mau keluar nih Henn….. Aaargggahhhh”
“Aku juga nannnn! Enak bangetttt, terus Nandry sayanggggg….Yang dalam Nan, terus terus…. sampai mentok nandryyyyy aahhhhhhhh yang dalam nannnn, aku keluar nann.”
Heny langsung meremas tangan gue kuat-kuat.
“Gila, hebat banget kamu udah bikin aku keluar tiga kali!” Kata Heny sambil bangkit dari tempat tidur dan memukul gue dengan bantal, setengah bercanda.
Dia duduk di sofa, kakinya mengangkang, tubuhnya direbahkan bersandar di sofa. Tampak Heny lemas sekali. Mekinya masih tampak memerah, teteknya masih kencang dan putingnya tampak besar dan kencang. Indah sekali, sesuai dengan kulitnya yang luning langsat.
“Kamu bakat jadi gigolo, Nan!”
“Gigolo? Mana mungkin… Gak punya apa-apa juga” Balas gue.
“Ya jadi gigoloku saja, kita bisa tiap saat begini…” Jawabnya manja.
“Kamu juga mainnya hot banget, Hen. Sudah pengalaman sekali, belajar dari mana?” Tanya ku
“Tahu gak kamu? Aku tidak bersuami, kenapa? Karena aku takut dapat laki-laki hidung belang. Soalnya semua yang pernah meniduri aku adalah laki-laki hidung belang.” Cerita Heny. “Dulu aku wanita panggila, klien aku orang VIP, tarifku selangit. Tapi setelah aku diatas 35 tahun, pasaranku merosot dan aku milih pensiun. Kalah saingan dengan yang ABG.” Tambahnya tegas.
“Tapi kamu kaya raya, Hen. Kok tidak pilih suami yang mantap?”
“Kamu kan suamiku…” Jawabnya bercanda. “Kamu sering main dimana?” Tanyanya lagi.
“Gak sering, paling sesekali sama pacarku si Chyntia. Itu juga kalau dia lagi ke sini atau aku ke kosannya aja.” Jawabku singkat.
“Oh gitu, sampaikan salam maaf aku buat chyntia ya, karena malam ini kamu milik aku…” Kata Heny, “Aku jatuh cinta dengan kamu, Nandry. Aku sudah lama menaruh simpati padamu…” Tambah Heny sambil menghampiri gue dan meluk gue serta melumat bibir gue dengan bibirnya.
Birahi kami kembali naik, sambil berpelukan dengan kaki diangkat sebelah dan diposisikan ke sandaran sofa, Heny menuntun konti gue dan dimasukan ke dalam liang kewanitannya lagi. Dia beraksi lagi, goyangannya membuat gue melayang ke awang-awang. Baru kali ini konti gue merasakan goyangan yang penuh gairah dan tenaga.
Heny melepas konti gue dan dengan segera naik ke ranjang, mengambil posisi nungging. Mekinya terlihat tampak menggairahkan, spontan gue masukan konti ke dalam mekinya.
“Aduhhh, Nandryy, kon enak yaaaa? Lebih dalam lagi, nannnn, ohhh sampai mentok naannnnn aahhhhh”
“Sama, punya kamu juga enak Henyyyy.. Kencang sekali rasanyaaaaa.”
“Terus nannn goyang terus nannn, sambil remas tetek ku nannn…”
“Aaargggg terus nannn, aku mau keluar nannnn” Erang Heny.
Sejak saat itu, gue dan Heny sering berhubungan intim meski Heny tau gue masih berpacaran dengan Chyntia. Sering kali Heny mengintip gue yang sedang asik dengan Chyntia, dan meminta jatah pas Chyntia sudah pulang. Berkat kejantanan yang gue berikan, Heny memindahkan kamar gue ke atas yang lebih enak dan gue tidak perlu membayar kosan lagi sampai kapanpun gue mau.

Related Post