cerita panas

Novi, Gadis Penggoda

Saat ini aku baru lulus SMA sedang cari tempat kuliah, tapi sudah 3 kota kujelajahi tidak satupun yang aku rasa cocok, akhirnya aku kembali ke kotaku. Sebut saja namaku Novita, saat ini usiaku 19 tahun, kata orang yang mengenalku aku dianggap sebagai wanita penggoda ini disebabkan bentuk tubuhku yang yahud dengan bodi montok dan seksi serta bibir tipis dan kulit putih bersih bak mutiara. Orang bilang aku kayak bintang sinetron, CK.
Awalnya aku dicap sebagai gadis penggoda yaitu ketika aku duduk di kelas II SMA, aku mempunyai teman akrab, sebut saja Anggie. Dia pindahan dari sekolah lain, selain sebagai siswa sekolah yang kutahu dia sebagai pelacur jika di luar lingkungan sekolah. Di sekolah hanya aku yang mengetahuinya, karena seringnya aku bergaul dengan Anggie, aku jadi sedikit ketularan gaya pelacurnya, sehingga sekolah tahu kalau aku yang menjadi pelacur. Karena Anggie-lah, aku sering menonton film porno miliknya. Jadi kalau ada seorang lelaki yang kulihat ganteng ada di sekolah pasti kuganggu dengan suitan-suitan.
Lelaki yang pertama kali kugoda adalah kepala sekolahku sendiri, sebut saja Pak Lubis. Aku dan Anggie sedang ada di lorong sekolah, 1 minggu lagi aku mau Ebtanas jadi pelajaran sudah berkurang, tapi banyak guru-guru dari sekolah lain yang meninjau sekolahku karena mereka akan jaga Ebta di sekolahku. Ada seorang guru dari sekolah lain sedang melintas di depanku dan Anggie, orangnya sih imut jadi kugoda. “Suit.. suit.. Bapak, boleh dong kenalan sama Noviita..” kataku ketika dia melintas di depanku. Orang itu hanya tersenyum-senyum melihat ke arahku, tapi aku tidak tahu kalau kepala sekolahku saat itu ada di belakangku. Tiba-tiba telingaku dijewernya.
“Hayo.. kamu Novii.. ganggu orang aja yach..”
“Aduh.. sakit Pak..”
“Kamu ke kantor Bapak ya.. kamu ini..”
“Iya.. iya.. Pak..”
Dengan langkah terpaksa kuikuti kepala sekolahku ke kantornya. Pak lubis ini memang terkenal galaknya. Ketika sampai di kantornya disuruhnya duduk berhadapan terhalang meja kerjanya yang banyak sekali surat-surat di atasnya.
“Tutup pintunya.. terus kamu duduk sini..”
“Iya.. Pak..”
Kututup pintu kantor Pak Lubis lalu duduk di hadapannya.
“Novi.. kamu ini.. ganggu orang.. aja.. kamu khan seminggu lagi ujian.. apa kamu nggak mau lulus?”
“Iya.. mau Pak..”
“Iya.. kamu belajar dong.. bukannya gangguin orang terus.. kalau kamu begitu terus saya nggak bisa beri kamu lulus..”
“Iya.. jangan dong Pak.. Novi.. pingin lulus Pak.. tapi Novi punya syarat deh..”
“Syarat apa.. pakai syarat-syarat segala..”
Aku tidak mengatakan apa-apa syaratnya, aku berdiri dan berjalan ke arah pintu kantor Pak Lubis.
“Hei.. kamu mau kemana? saya belum selesai.”
Pintu kantor Pak Lubis kukunci lalu aku kembali ke arahnya, tapi aku tidak duduk di kursi lagi, aku duduk di atas meja kerja Pak Lubis yang Pak Lubis sedang duduk di kursinya melongo melihat tingkah lakuku. Arsip di atas meja kusingkirkan. Aku berhadapan dengan Pak Lubis, kancing bajuku kubuka satu persatu dan bajuku kusingkapkan sehingga BH-ku warna pink dan perutku yang mulus dan putih telah terlihat oleh Pak Lubis, lalu tanganku menggapai tangan Pak lubis yang berotot, tangan itu kutuntun ke arah rok abu-abuku, lalu kusingkap rokku dan dengan bantuan tangan Pak Lubis kuraih celana dalamku warna krem lalu kutarik hingga betis, dan terpampanglah dengan jelas tempeku dengan bulu-bulu halus di depan mata Pak Lubis.
“Pak.. inilah syaratnya.. sekarang selesaikan yang ingin Bapak selesaikan..”
Pak Lubis hanya terbengong melihat tubuhku yang sudah kubuka untuknya, matanya terus menatap ke arah tempeku. Nafasnya berubah menjadi semakin liar.
“Novi.. ka.. kamu.. hgeehh.. tempemu bagus sekali.. harum.. lagi.. ka.. kamu.. mau.. ya..”
“Iya.. Pak.. selesaikan aja sekarang.”
Tiba-tiba tangan Pak Lubis meregangkan kakiku, sehingga semakin jelas tempeku terlihatnya. Pak Lubis setengah berdiri lalu lidahnya mulai menyapu bibir tempeku dengan lembutnya, yang membuat diriku jadi menggelinjang karena baru pertama kali ini tempeku dijilat seseorang, yang mana sebelumnya hal ini hanya kulihat di film porno milik Anggie, tapi sekarang aku merasakannya. Keringatku mulai keluar membasahi bajuku, perutku juga mulai basah oleh keringat.
“Aaahh.. sshh.. Pak.. ee.. enak.. sshh..”
“Novi.. kamu baru pertama kali yach.. diginiin..”
“Iy.. iyahh.. Pak.. aahh..”
tempeku terus dijilat oleh lidahnya dengan rakus. Pada saat biji klitorisku terjilat, aku melenguh.
“Aaahh.. aarghh.. iya.. Pak.. di situ.. Pak.. enak.. sekali.. argh.. argh..”
“Iyah.. Novi.. Bapak.. juga suka.. rasanya manis sekali.. hheehh..”
Kepala Pak lubis kupegang dan kuelus lalu kujepit dengan pahaku, rasanya aku tidak ingin kalau Pak lubis melepaskan lidahnya dari tempeku. Dan itu yang membuat Pak Lubis makin menggila menjilati tempeku. Lima menit setelah tempeku mulai basah entah oleh cairan atau ludah Pak Lubis. Pak Lubis menurunkan celana panjangnya dan di balik itu jalan tolnya yang sudah mengeras dan tegang seakan mendesak keluar dari celana dalamnya yang membuat Pak Lubis merasa tidak enak sehingga dia pun langsung melepaskan celana dalamnya dan muncullah jalan tolnya yang agak panjang kira-kira 15 cm dengan diameter kira-kira 3 cm dan berurat menggelantung di tengah pahanya. Dipegangnya jalan tolnya lalu ditempelkan tepat di bibir tempeku. Rasa batang itu agak hangat menyentuh tempeku.
“Novi.. masukkin.. sekarang yach..”
“Iya.. Pak.. punya Bapak kepalanya hangat deh.. batangnya pasti lebih hangat lagi..”
Tanganku merangkul lehernya, sedangkan tangan Pak lubis memegang kedua pantatku yang bersandar di atas meja, lalu jalan tolnya mulai disodokkan ke tempeku. Aku hanya bisa terpejam menahan sodokan batangnya, karena memang tempeku belum pernah ditembus apapun sehingga batang itu meletot ke kiri dan ke kanan tempeku.
“Novi.. tempemu sempit sekali, kamu masih perawan yach..”
“Iya.. Pak, memang belum pernah ditusuk kok Pak.. baru pertama kali ini, coba jari Bapak dulu aja..”
Pak Lubis tersenyum seakan senang bisa membobol tempeku untuk yang pertama kalinya. Jarinya mulai mencoba dikorek-korekkan ke tempeku, hal ini membuatku menggelinjang. Sekitar lima menit jari itu menguak bibir tempeku agar makin lebar. Setelah itu dicobanya lagi jalan tolnya menusuk tempeku, dihentaknya berkali-kali hingga baru yang kesepuluh kalinya akhirnya jalan tol itu masuk ke dalam tempeku walau hanya setengah. Batang itu membuat aku terasa sesak nafas menahan hentakan di dalam tempeku. Selama batang itu dihentak aku hanya bisa memejamkan mata menahan sakit yang sangat pada dinding tempeku tapi ketika sudah masuk setengah rasanya berubah menjadi nikmat yang sangat luar biasa.
“Arrgghh.. arrgghh.. mmgghh.. Pak.. enak.. Pak.. terus sodoknya..”
“Iya.. Novi.. heh.. heh.. tempemu enak sekali, rasanya batangku diperas dalam tempemu.. heh.. heh.. oh.. ohh.. oohh..”
Tangannya mulai mengusap perutku lalu BH-ku ditariknya sehingga payudaraku yang montok nan mancung berselimut kulit yang putih mulus dihiasi puting kemerah-merahan terpampang jelas. Payudaraku diremasnya, lalu mulutnya mulai melahap payudaraku, dihisap, dikenyot dan digigit. Mulutku yang seksi dengan bibir merekah sekarang dikecup bibirnya sesekali lidahnya memainkan lidahku hingga aku makin menggelinjang.
Tidak puas dengan gaya menyodok dari depan, badanku di atas meja kerjanya diputarnya sementara jalan tolnya masih terbenam dalam tempeku, jadi gaya sekarang doggie style, aku berpegangan pada sisi meja kerjanya, tempeku disodoknya dari belakang, hal ini membuatku meronta-ronta ketika batangnya berputar di dalam tempeku.
“Aaahh.. aahh.. Pak enak sekali..”
“Novi.. enakan gaya ini daripada gaya yang tadi..”
Sodokan jalan tol Pak Lubis seakan akan merobek tempeku, hingga 10 menit kemudian tiba-tiba badanku kejang dan keluarlah cairan dari dalam tempeku dengan derasnya membasahi batang Pak Lubis yang masih tenggelam di dalam tempeku, saking derasnya sebagian menetes pada meja kerjanya, cairan yang banyak sekali keluar dari tempeku membuatku lemas tak berdaya.
“Aaahh.. aarrgghh.. mmgghh.. Pak.. saya mau.. keluar.. nih.. Paakk..”
Sementara Pak Lubis makin mempercepat sodokan batangnya ke tempeku yang becek, pantatku yang putih mulus nan montok lagi dihisap dan digigit mulutnya, dan 5 menit kemudian Pak Lubis akhirnya mencabut batangnya dari tempeku dan langsung muncrat cairan dari dalam batangnya dengan deras membasahi pantat dan punggungku. “Argh.. argh.. argh.. Novi.. tempemu memang enak sekali deh.. argh.. argh.. sshh.. sshh..” Terduduklah Pak lubis di kursi kerjanya dengan lemas, sementara aku masih tergeletak di atas meja kerja.
Tak lama kemudian ada suara ketukan di pintu, Pak Lubis sontak membersihkan batangnya yang masih banyak cairan dengan celana dalamnya sendiri, aku dibangunkan, tempeku yang masih ada sisa cairan dibersihkan dengan kertas kertas arsip yang ditemukan olehnya dan menyuruhku pakai bajuku. Sisa cairanku yang tumpah di meja kerjanya dibersihkan dengan sapu tangannya. Setelah aku dan Pak Lubis telah berpakaian, dia menyuruhku keluar dari ruang kerjanya dan mempersilakan tamu yang mengetuk masuk ruangan, rupanya yang mengetuk adalah wakil kepala sekolah, Ibu Linda. Dengan langkah gontai kutinggalkan Pak Lubis dengan Bu Linda. Aku pun pulang.
Hampir 5 hari aku tidak masuk sekolah, karena selangkanganku rasanya sakit setelah disodok Pak Lubis untuk pertama kalinya. Aku masuk sekolah hanya untuk mengetahui lokasi ujian Ebta, yang rupanya aku mendapat lokasi di sebuah SMEA yang jauhnya 10 km dari sekolahku dan setelah masuk ujian Ebta, hanya aku yang ada di SMEA itu tidak ada temanku dari sekolah SMA-ku. Ujian Ebta berlangsung selama 5 hari, ketika hari Jum’at, hari terakhir seusai ujian di saat aku jalan menuju halte, aku dicegat oleh mobil Mercy, yang rupanya di dalamnya Pak Lubis.
“Novi.. sudah selesai ujiannya, mau saya antar?”
“Bolehlah Pak..”
Aku lalu masuk ke dalam mobil Pak Lubis dan kami pergi dari SMEA itu.
“Novi.. maaf yach kejadian di ruang kerja saya..”
“Ah.. nggak apa-apa koq Pak..”
“Terus terang sejak kejadian itu.. saya jadi kangen sama kamu.. kita tidak bertemu hampir 2 minggu. Maaf yach.. Novi.. saya pingin kehangatan dirimu lagi.. apa kamu mau melakukannya lagi..?”
“Novi.. juga kangen sama Bapak.. terserah Bapak lah saya mah ikut Bapak aja..”
“Terima kasih.. yach.. Novi.. kalau kamu bersedia.”
Kulihat Pak Lubis tersenyum karena ajakannya tidak kutolak, kucium pipinya sewaktu dia menyupir. Hari itu Pak Lubis mengajakku ke Ancol, sampai di sana kami makan siang lalu sekitar jam 14.00, aku dan Pak Lubis memesan sebuah kamar di Pondok Putri Duyung, begitu masuk kamar dengan nafsu membara Pak Lubis dan aku langsung bugil, ditempelkan badanku di dinding lalu Pak Lubis langsung menyodokkan batangnya ke tempeku dalam posisi berdiri, seakan aku digendongnya, hampir 15 menit lamanya kami melakukan dengan posisi berdiri lalu dia memindahkan tubuhku ke tempat tidur dengan posisi aku menggantungkan kakiku di sisi tempat tidur dan disodoknya sementara batangnya masih terbenam di tempeku sejak posisi berdiri. 15 menit kemudian ketika aku akhirnya mengeluarkan cairan dan darah dari tempeku dengan derasnya yang membuatku lemas tak berdaya, kami ganti posisi lagi, sekarang kakiku diletakkan di pundak Pak Lubis sehingga hujaman batangnya serasa lebih masuk lagi ke tempeku dan pada posisi yang ketiga ini kami lakukan sampai 30 menit kemudian dan Pak Lubis pun mengeluarkan cairannya di dalam tempeku hingga aku merasakan kehangatan air maninya dalam tempeku.
Tapi tenaga Pak Lubis sangat luar biasa, walau dia telah menyirami air mani dalam tempeku. Pak Lubis membalikan badanku yang lemas-lemasnya untuk ganti posisi lagi dimana sekarang aku jongkok di badannya sedangkan Pak Lubis tidur terlentang. Badanku dipegangi kedua tangannya sedangkan tempeku yang tertusuk jalan tolnya, lalu badanku dihentakkan naik-turun, gaya posisi ini kami lakukan selama 10 menit, lalu setelah itu dia memegangi tubuhku lalu diputarnya badanku sehingga posisi kami berubah lagi, badanku membelakanginya dan dikocoknya badanku naik-turun, posisi inipun kami lakukan dalam 10 menit berikutnya hingga aku mengeluarkan cairan lagi untuk kedua kalinya hingga aku agak tak sadarkan diri karena kali ini cairanku keluar dengan darah yang agak banyak. Dalam keadaan tubuhku yang sangat lemas, batang itu masih di dalam tempeku.
Pak Lubis merubah posisi lagi hingga ke-6 kalinya, kali ini aku nungging di tempat tidur dan dia menyodok dengan keras sekali, posisi inipun kami lakukan selama 15 menit hingga aku mengeluarkan cairan lagi yang ketiga kalinya dan Pak Lubis juga kembali mengeluarkan cairan di dalam tempeku secara hampir bersamaan. Akhirnya setelah 2 jam tempeku dihujam habis-habisan oleh batang Pak Lubis dengan 6 posisi pula, aku pun langsung pingsan diikuti Pak Lubis yang ambruk di tubuhku sambil memelukku.
Aku terbangun dari pingsanku ketika aku sudah tiba di depan rumahku kira-kira jam 23.00 malam. Sebelum aku turun dari mobil Pak Lubis aku mencium bibir Pak Lubis. “Pak.. makasih ya.. Novi.. benar-benar puas deh..”
“Novi.. Bapak yang harus terima kasih karena kamu bisa memuaskan saya hampir 2 jam lamanya, kamu hebat.. Novi.. dan terima kasih kalau kamu mau menerima air mani saya.. di tempemu..”
“Nggak.. Novi.. yang terima kasih karena Bapak memberikan air mani Bapak.. buat Novi..”
Setelah itu aku turun dari mobilnya dan Pak Lubis langsung meninggalkanku. Dengan langkah gontai aku masuk rumah dan langsung tidur. Seharian aku tidak turun dari tempat tidur karena selangkanganku rasanya sakit sekali.
Pengumuman Ujian Ebta berlangsung 3 minggu kemudian, yang jatuh hari Sabtu, aku ke sekolah untuk lihat hasil ujian sekaligus untuk bertemu dengan Pak Lubis karena rasa kangenku, tapi Pak Lubis sedang rapat di kopertis. Aku pulang dari sekolah kira-kira jam 04.30 sore dengan langkah gontai aku tiba di rumah, di saat itu mamaku mau pergi dengan temannya.
“Novi.. jaga rumah ya.. Mama mau arisan, pulangnya jam 09.00, kedua adikmu juga baru pergi ke Mal.”
“Iya.. Ma, jangan lupa oleh-oleh buat Novi..”
Mama pun pergi, dengan agak malas aku masuk ke dalam rumah, karena aku berharap di malam Minggu ini aku bisa bersama Pak Lubis. Setelah menutup pintu aku ke kamarku dan mandi. Selesai Mandi ketika aku sedang memandangi dan memijat-mijat kedua payudaraku karena 3 minggu tidak tersentuh oleh tangan laki-laki, tiba-tiba pintu kamarku dibuka, rupanya ayahku baru pulang dari bengkel, ayahku memang pemilik sebuah bengkel di kota Jakarta ini. “Eh.. Ayah..” aku langsung mengambil handuk untuk menutupi payudaraku. Ayah yang juga kaget lalu menutup pintu kamar dan bertanya padaku dari luar kamar.
“Mamamu sama adik-adikmu kemana..?”
“Pergi.. yah, Mama ada arisan, Adik-adik ke Mal.”
“Ooohh, eh.. iya gimana kamu lulus, nggak..”
“Lulus.. Yah..”
“Ya.. sudah.. Ayah mau istirahat..”
Suara ayah lalu menghilang. Aku yang masih agak kaget atas kejadian yang baru terjadi, tiba-tiba perasaanku berubah. Ada perasaan untuk menggoda ayahku karena sudah 3 minggu aku horny, ingin sekali merasakan kehangatan laki-laki, akhirnya aku memilih baju sackdress berwarna hitam dengan hanya menggunakan celana dalam tanpa memakai BH, jadi bentuk payudaraku agak terbayang.
Aku keluar kamar dan kulihat ayah sedang nonton TV di ruang keluarga, kuhampiri ayahku, salah satu tangan ayah memegang gelas berisi kopi dan yang satunya memegang remote TV. Aku membayangi jika tangan ayah yang kekar menjamah tubuhku. Lalu aku duduk di sofa sebelah ayah. Tiba-tiba ayah mencium pipiku.
“Selamat.. ya.. Novi.. kamu ada rencana kuliah dimana..?”
“Wah.. belum.. tau Yah.. Novi.. binggung.”
Ciuman ayahku membuatku agak terangsang, lalu aku menyadarkan kepalaku pada bahu ayah.
“Yah.. minumnya hanya kopi..”
“Ayah.. sudah cari yang lain.. tapi di dapur nggak ada..”
“Ayah.. mau tambah.. susu?”
“Emangnya ada.. koq Ayah.. nggak lihat.. di kulkas yach..”
Ayah lalu berusaha bangkit menuju ke arah kulkas, tapi buru-buru kucegah. Sehingga ayah duduk lagi.
“Susunya.. di sini koq.. Yah..”
“Mana..?”
Aku tidak menjawab, lalu aku bangkit dari dudukku dan berdiri tepat di depan Ayahku. Tali baju sacdress aku turunkan sampai hampir ke perut dan terpampanglah payudaraku yang mancung diselimuti kulit yang halus di depan muka ayahku. Ayahku agak terkaget melihatku.
“Novi.. ka.. kamu.. ngapain..”
Ayah terbata-bata sementara matanya tidak berpaling terus menatap payudaraku.
“Ini susunya.. Yah.. buat Ayah..”
“Ka.. ka.. kamu.. gila.. Novi.. mau godain.. Ayah..”
“Mumpung.. Mama dan adik-adik pergi.. Yah..”
Kugapai tangan ayahku yang masih terbengong lalu kutempelkan tangannya di payudaraku. Tangannya yang kekar tepat memenuhi payudaraku. Tangannya agak basah berkeringat. Tapi tiba-tiba tangan itu meremas payudaraku dengan lembut.
“Aaahh.. terus.. Yah..”
“Novi.. payudaramu indah sekali.. bening banget.. kenyal lagi..”
Ayah yang sudah terangsang mulai mencium payudaraku, dicium, dijilat, dikenyot, dihisap dan digigit putingku yang berwarna kemerahan.
“Yah.. aahh.. aahh en.. enak.. Yah..”
“Iya.. sayang.. putingmu.. manis..”
Sementara payudaraku sedang dimakan oleh mulut ayahku, tangannya mulai merambah ke pahaku, rok sackdres-ku diangkatnya lalu diraihnya celana dalamku dan ditarik ke bawah hingga kaki, otomatis tempeku yang ranum terpampang jelas dan menyerbakkan aroma harum ke ruang keluarga.
“Novi.. bau apa ini.. harum sekali..”
“Bau tempe Novi.. Ayah.. khan.. Novi.. baru mandi.”
“Waawww.. pasti rasanya.. enak.. juga.. ya..”
“Kalau Ayah mau.. mencoba.. boleh.. kok.. sodok aja sama batang.. Ayah.. yang mulai nonjol..”
Kulihat jalan tol ayah sudah mulai mendesak dari balik celana yang dikenakannya. Tubuhku lalu digendong ayah dan dibaringkan di sofa, lalu ayah jongkok persis di pahaku dimana tempeku sudah terpampang dengan jelas. Dengan lembut ayah menjilati bibir tempe lidah ayah sangat lembut sehingga aku menggelinjang.
“Aahh.. aahh.. Ayah.. eennaakk.. sekali..”
Pahaku kutekan sehingga kepala ayahku terjepit ini kulakukan karena aku tidak ingin ayahku melepaskan jilatan lidahnya pada tempeku.
“Novi.. tempemu.. segar.. sekali.. Ayah.. suka..”
Lidah ayah semakin ke dalam dan ketika klitorisku terjilat aku berontak keenakan.
“Iyah.. iyah.. itu.. Yah.. enak.. sekali.. heehh..”
“Novi.. Ayah.. juga.. suka.. rasanya manis.. deh..”
Klitorisku dijilat ayah sampai 15 menit kemudian dan akhirnya meledaklah tempeku dengan menyemburkan cairan yang banyak sekali membasahi tempeku dan lidah ayah, tapi dengan tangkas ayah langsung menelan cairan kental milikku sehingga sedikit sekali yang membasahi pahaku. “Aaargghh.. arrghh.. Aayaahh.. nikmat.. sekali.. aahh.. aahh..” Lemaslah tubuhku di sofa, sementara ayah mempersiapkan diri untuk menyodokku. Ayah melepaskan semua pakaiannya hingga bugil dan kulihat jalan tol ayah yang besar sekali melebihi punya Pak Lubis karena aku perkirakan panjangnya 20 cm dengan diameter 4 cm, aku tersenyum melihat ayahku karena aku yakin pasti aku bisa dibuat puas oleh ayahku.
Ayah berdiri di depan mukaku, batang ayah diarahkan ke mulutku, ayah menginginkan batangnya dijilat olehku. Tanganku mencoba meraih batang ayah, tetapi saking besarnya tanganku tidak bisa menggenggamnya. Lidahku kujulurkan menjilati batang ayah yang berurat, kujilat, kuhisap, kuemut dan kugigit layaknya anak kecil makan es loli. Kulirik ayah hanya merem-melek menikmatinya serbuan mulutku pada batangnya. Hampir 15 menit lamanya ketika batang ayahku basah oleh ludahku, ayah memindahkan dari mulutku dan langsung ditempelkan tepat di bibir tempeku. Kakiku dibukanya hingga tempeku terbuka lebar. Kedua tangan ayah memegangi telapak kakiku lalu batangnya mulai menyodok tempeku, tapi karena batang ayah yang super gede dan tidak dipeganginya maka meletot batang ayah di luar tempeku.
Ayah lalu memegang batangnya dan tepat ditempelkan pada tempeku dan kembali menyodokkan batangnya pada tempeku, walaupun tempeku pernah terbongkar oleh batangnya Pak Lubis, kepala sekolahku, dan batang ayah yang super gede maka tidak bisa sekali sodok untuk memasukkan batangnya ke tempeku. Akhirnya setelah 15 kali ayah berusaha menyodokkan batangnya, masuklah hingga setengahnya ke dalam tempeku. “Heekh.. heekh.. Yah.. punya Ayah.. gede.. banget.. masuknya sampe.. tempe.. Novi.. robek.. nih.. aahh.. aah.. sshh.. sshh.. terus.. yah.. terus.. e.. e.. enak.. deh..” Hantaman batang ayah yang besar di dalam tempeku membuatku sesak nafas untuk menahannya tapi rasanya sangat nikmat. Ayah terus menghentakkan batangnya ke tempeku dengan genjotannya secara terus menerus sampai hampir satu jam lamanya setelah keringat deras mengucur dari tubuhku dan tubuh ayah dan aku mulai kejang-kejang seakan ingin memuntahkan cairan dari tempeku yang pada akhirnya keluarlah dengan deras cairan dari tempeku membasahi batang ayah yang masih terdiam di dalam tempe milikku disertai eranganku.
“Aarrgghh.. aarrgghh.. Ayah.. Novi.. keluar.. nih.. Yah.. sshh.. sshh.. aagghh.. agghh.. eennaakk.. deh.. aahh.. aahh..” Lemaslah dengan lunglai tubuhku di sofa, sedang kulihat ayah belum merasakan apa-apa. Tiba-tiba ayah memegang kedua tanganku lalu mengangkat tubuhku dimana batang ayah masih tertancap di tempeku, sehingga posisi kami sekarang ayah seakan menggendongku, tanganku memeluk leher ayah. Dengan posisi berdiri ayah menggoyangkan tubuhku, digendongannya naik-turun menggerakkan batangnya menembus tempeku sehingga aku loncat-loncat. Aku sangat menyukai yang dilakukan ayahku karena sudah pasti rasanya batang itu lebih ke dalam lagi memasuki tempeku. Walaupun tubuhku yang sudah lemas tapi aku berusaha mengimbangi gaya ayahku, payudaraku yang ranum, padat, kenyal sudah diserbu mulut ayah baik digigit, dikenyot, dihisap putingnya. Aku membalas dengan mengecup dahinya sambil mengelus rambutnya.
Posisi ini dilakukan ayahku selama 15 menit yang lalu mengubah posisi lagi dimana batang ayah yang masih menancap di tempeku dan tubuhku diputar lalu diletakkanlah tubuhku kembali di atas sofa jadi posisi yang sekarang, aku menungging disodok ayah. Posisi inilah yang rupanya disenangi ayahku, karena dia merasakan bahwa batangnya lebih menyodok ke dalam lagi.
“Heeh.. heeh.. heeh.. Novi.. tempemu.. luar.. biasa.. sekali.. batang.. Ayah.. kayak.. dipelintir.. Ayah.. suka.. sekali.. heehh.. hhgghh.. hhgghh..” Selama satu jam Ayah menyodokku dengan posisi nungging dan tiba-tiba tubuh ayah mengejang dan batangnya dicabut dari tempeku dan batangnya diarahkan ke mulutku yang tertutup dan secara otomatis langsung kubuka mulutku menyambut batang ayah yang langsung menumpahkan cairan yang banyak sekali dan hangat sehingga cairan ayah otomatis tertelan di mulutku tapi saking banyaknya cairan itu akhirnya meleleh sampai mukaku. “Aaarghh.. argghh.. Novi.. isap.. Novi.. telan.. nih.. cairan.. Ayah.. aarghh.. arghh.. sshh.. nikmatnya..”
“Mmbbmm.. mmbmm.. ssllrupp.. ssllruupp.. ahh.. Yah.. cairan.. Ayah.. nikmat.. sekali..”
Ambruklah tubuh ayah meniban tubuhku di sofa dan kami pun tertidur. Jam 08.00 malam aku terbangun dari tidurku di saat ayah menggendong tubuhku yang bugil menuju kamarku.
“Yah.. terima kasih.. Yah.. Novi.. merasakan.. kenikmatan.. yang.. tiada tara.. tapi lain kali cairan.. Ayah.. masukin aja.. di dalam. tempe Novi..”
“Iya.. sayang.. nanti.. Ayah.. kasih.. Ayah.. juga.. terima kasih.. atas.. kenikmatan tempemu.. sekarang kamu.. tidur.. di kamar ya.. nanti ibumu.. pulang.”
Tubuhku diletakkan ayah di tempat tidurku dalam kamarku, setelah mengecupku ayah meninggalkanku yang terbaring bugil keluar kamarku dan tidak lama kemudian kudengar ayahku mandi sedangkan aku tertidur lagi.
Hubunganku dengan ayah berlanjut terutama jika ibu dan kedua adikku tidak di rumah. Kami pun sering melakukan di motel. Tapi sebaik-baiknya perbuatan, kalau yang busuk pasti terbongkar. Terbongkarnya perbuatanku dengan ayah ketika sudah hampir 1 bulan berjalan. Malam itu sekitar setengah satu ketika aku sedang tidur “ayam” di kamarku dan sudah tiga hari aku dan ayah berhubungan, ayah masuk ke kamarku untuk melakukan hubungan badan, setelah 1 jam lamanya kami berhubungan di saat posisiku sedang di atas tubuh ayah, tempeku tertusuk batang ayah. Pintu kamar terbuka dan di luar kamar ibuku melihat apa yang kami lakukan. Rupanya ibu terbangun dan mencari ayah dan tidak mengira kalau suaminya atau ayahku sedang berhubungan dengan diriku. Ibuku langsung menjerit dan meninggalkan aku dan ayah dengan terbengong. Ibuku lari ke kamarnya sambil menangis. Kami pun langsung berdiri dan berpakaian lalu ke kamar ibuku. Malam itu ibuku marah besar kepadaku dan ayah. Aku dan ayah akhirnya tidak tidur dan hanya duduk menyesali perbuatan kami di ruang tidur.
Paginya, ibuku tidak berkata satu katapun kepadaku dan ayah. Akhirnya setelah siang permintaan maaf kami diterima oleh ibuku dengan suatu perjanjian bahwa mulai malam aku harus meninggalkan rumah untuk pergi ke Yogya dimana aku dititipkan ke adik ibuku yang paling kecil, sebut saja Bibi Nani, sedang ibu dan ayah harus pisah ranjang. Malamnya dengan perasaan berat aku meninggalkan rumah untuk ke Yogya, tapi sebenarnya yang memberatkan perasaanku bahwa aku harus berpisah dengan ayahku yang dimana tumbuh perasaan cinta terhadap ayahku sendiri.
Di kereta menuju Yogya, pikiranku hanya tercenung ke ayahku. Sampai di Yogya pada pagi harinya, Bibi Nani menjemputku di stasiun KA. Ibuku mengirimku ke Yogya dengan tujuan kalau aku bisa berubah dan kuliah di Yogya, ini disebabkan Bibi Nani adalah seorang kepala sekolah agama, beliau terpaut dengan ibuku 15 tahun, Bibi Nani usianya 30 tahun, ibuku usianya 45 tahun, sedangkan Ayah usianya 47 tahun.
Bibi Nani adalah seorang yang taat agamanya, selain sebagai kepala sekolah Aliyah, malam harinya pasti bersama-sama ibu-ibu tetangganya melakukan pengajian, inilah yang ibuku pikirkan kalau aku ikut bersama Bibi Nani, aku bisa belajar ngaji lebih banyak, tetapi pikiran ibuku sangat berbeda dengan pikiranku, makanya suami Bibi Nani, yaitu Paman Hendi tergoda juga olehku. Paman Hendi usianya 2 tahun lebih muda dari Bibi Nani, dia seorang guru olahraga di sebuah SMP Negeri di kota Jogja. Bibi dan Paman sudah dua tahun menikah tapi kehadiran seorang anak belum didapatkannya.
Satu Minggu sudah aku tinggal di Jogja, rasa kangenku atas sentuhan ayah tiba-tiba bangkit. Hari itu adalah hari Jumat, kira-kira jam 01.00 siang aku pulang dari kampus-kampus untuk mendaftar kuliah, ketika aku masuk rumah kulihat ada sarung dan sejadah di atas meja tamu, aku agak takut karena biasanya paman dan bibi baru pulang dari sekolah pada sore hari, tiba-tiba di ruang dapur ada suara lemari es terbuka. Dengan agak takut aku menuju dapur, begitu sampai di dapur rupanya Paman Hendi sedang mempersiapkan makan siang.
“Eh.. Paman.. sudah sampai.. biasanya pulang sore.. Paman..?”
“Iya.. Paman pulang agak cepat, rasanya Paman sakit perut, kamu baru pulang dari mana?”
“Novi.. muter-muter Yogya, habis cari tempat kuliah..”
“Ooohh.. Kamu sudah makan belum.. biar sekalian Paman siapkan..”
“Eh.. Paman istirahat saja.. biar Novi yang siapkan makan siangnya..”
“Kamu bisa.. kalau begitu terima kasih deh.. Paman di kamar yach.. nanti kalau sudah siap tolong bangunin Paman!”
“Baik Paman.. biar Novi.. aja..”
Paman lalu meninggalkanku di dapur menuju kamar tidurnya, aku pun ke kamarku untuk ganti baju lalu mempersiapkan makan siang. 15 menit kemudian setelah makan siang kusiapkan di atas meja makan, aku ke kamar tidur paman untuk membangunkannya. Kubuka pintu kamar tidur paman, kulihat paman sedang tidur di tempat tidurnya, paman hanya mengenakan kaus dan celana pendek. Perlahan-lahan aku dekati paman yang sedang tidur. Begitu dekat dengan paman, pandanganku terpaku pada jalan tol paman yang agak menonjol dari balik celana pendeknya, rasa kangenku terhadap lelaki muncul, aku lalu duduk di sebelah paman, tanganku mengusap jalan tolnya yang ada di balik celananya dengan perlahan, karena nafsuku tiba-tiba melonjak, jalan tolnya mulai kuremas-remas. Tiba-tiba paman terbangun.
“Hah.. kamu ngapain Novi, astaga.. kamu ini..”
“Maaf Paman, nafsu birahi saya lagi memuncak nih.”
“Tapi.. kamu.. Novi.. kamu ini.. gila..”
“Tidak.. Paman.. saya tidak gila.. saya ingin Paman bisa memuaskan nafsu saya.. karena sudah 1 minggu saya tidak tersentuh lagi dari ayah..”
“Jad.. jadi.. kamu sama ayahmu..?”
Paman tidak meneruskan kata-katanya lagi selain melongo melihatku mulai melepaskan baju daster, BH sehingga celana dalamku dimana aku langsung bugil. Paman tidak berkedip melihatku yang bugil berdiri di hadapan paman. Payudaraku yang putih mancung dan tempeku yang merekah seakan menantang pamanku. Aku lalu duduk disamping paman yang duduk terbengong di tempat tidur, tanganku mulai meremas lagi jalan tolnya, sedangkan tanganku yang satu memegang tangannya lalu kutuntun ke arah tempeku. Bibirnya yang tipis mulai kuciumi, Paman hanya mengikuti keinginanku saja. Paman mulai membalas ciumanku pada bibirnya, lidahnya dikeluarkan dan dipautkan dengan lidahku. Paman mulai meningkat nafsunya, tangannya terus mengorek tempeku lebih ke dalam lagi, jarinya ditusukkan masuk ke liang tempeku hingga menyentuh biji klitorisku.
Setelah cukup puas memainkan tangan dan jarinya di tempeku. Paman lalu menarik celana pendeknya hingga ke dengkulnya, rupanya paman tidak mengenakan celana dalam sehingga otomatis jalan tolnya yang sudah tegang setelah kuremas-remas kini terpampang jelas di hadapanku. jalan tol paman ukurannya agak kecil dari punya ayahku, tapi urat-urat pada batangnya lebih keluar.
“Paman, batang Paman uratnya gede-gede yach, sampai menonjol, rasanya sakit nggak sih?”
“Tidak sayangku, tapi Paman yakin Novii pasti lebih puas deh selesai mencoba daripada punya ayahmu.”
“Ah, Paman bisa aja nih, mana mungkin?”
“Coba aja buktikan.”
Tanpa banyak bicara lagi jalan tol paman langsung kupegang dan mulai kuciumi perlahan-lahan. Bau khas batang paman membuatku makin bernafsu maka cepat-cepat kukulum, kujilat dan kugigit jalan tol paman. Aku layaknya seorang anak kecil menikmati coklat batangan, rasanya aku tidak ingin melepaskan mulutku dari batang paman. Paman mulai gelisah menggelinjang kenikmatan menikmati serbuanku pada batangnya. Kepalaku diusap-usap kedua tangannya. Hampir 30 menit lamanya batang paman kuhisap dan mulai basah oleh ludahku sendiri, sementara tempeku mulai kembang kempis. Aku lalu berdiri di atas badan pamanku, lalu batangnya paman kuarahkan ke tempeku, sementara tangan paman melingkari tubuhku.
Setelah posisi jalan tol paman sudah tepat di bibir tempeku, aku menekan ke bawah sehingga tertusuklah tempeku dengan batang paman walau hanya kepalanya saja yang baru bisa masuk. 10 kali aku memberikan hentakan dengan bantuan paman, akhirnya masuklah seluruh batang paman ke dalam tempeku. Batang paman kerasnya luar biasa, seperti pentungan polisi menghentak liang tempeku, kerasnya batang paman mungkin disebabkan paman sering berolahraga. Hentakan batang paman ke tempeku dilakukan berkali-kali.
“Aaahh.. aarrgghh.. aarrghh.. sshh.. Paman.. batang Paman keras sekali.. enak.. deh.. nyodok.. tempe Novi.. rasanya tempe Novi.. melebar nich..”
“Novi.. heegh.. heeghh.. tempemu juga.. nikmat.. sekali.. rasanya.. lebih.. nikmat.. dari punya.. Bibimu.. wah.. Ppaman jadi ketagihan nih..” Satu jam lamanya batang paman yang keras sekali menembus tempeku, bobol-lah pertahananku dimana tempeku banyak sekali mengeluarkan cairan putih dan hangat membasahi batang paman yang masih tertancap dalam tempeku. Saking banyaknya cairan yang keluar dari tempeku hingga meleleh ke paha kami berdua. “Aaah.. aahh.. Paman.. enak sekali.. aahh hh.. arrghh.. sshh.. sshh.. Novi.. ke.. keluar.. nih..” Lemaslah tubuhku menimpa paman yang sedang asyik melumatkan payudaraku yang putih, montok dan kenyal yang lagi dihisap-hisap oleh pamanku. Paman lalu memutarkan badanku dimana batang paman masih tertancap di tempeku hingga sekarang posisiku sekarang duduk di atas membelakangi pamanku, kemudian tubuhku diangkat dan dijatuhkan di tempat tidurnya, jadi posisi kami sekarang aku menungging dan paman berdiri dengan dengkulnya. Batang paman yang masih menancap lalu ditekannya berkali-kali ke tempeku, kedua tangannya memegangi pantatku sedangkan aku terbaring lemas. “Agh.. agh.. aghh.. Novi.. tempemu.. memang enak sekali.. rasanya.. agh.. agh.. agh.. sshh.. sshh..”
Batang paman yang keras menghujam lagi ke tempeku berkali-kali sampai kira-kira satu jam kemudian aku mengeluarkan cairan dari tempeku untuk kedua kalinya dan paman pun mengeluarkan cairan yang banyak sekali dimana paman menumpahkannya cairan paman yang hangat di punggungku karena paman terlebih dulu menarik batangnya dari tempeku sebelum mengeluarkan cairan. “Aaahh.. aahh.. sshh.. sshh.. Novi.. tempemu.. luar biasa deh.. baru kali ini paman mengeluarkan cairan segini banyaknya.. lain kali lagi yach.. aahh..”
Lemaslah tubuh paman sambil memeluk tubuhku dimana batang paman yang masih keras walau mengeluarkan cairan yang banyak menyundul pantatku. Sementara aku pun sedang terbaring lemas dimana tempeku basah oleh cairanku sendiri dan punggungku basah oleh cairan pamanku. Kami pun tertidur selama kurang lebih 1/2 jam ketika jam berdentang pukul 04.00 sore.
“Novi.. tempemu enak sekali deh.. boleh paman coba lagi lain waktu.”
“Boleh dong.. Paman.. tapi lain kali cairan Paman dibuangnya di dalam tempe Novi aja.. yach!”
“Iya.. deh.. sayang.. makasih.. ya..”
“Iya.. Paman.”
Kukecup bibir pamanku lalu kutinggalkan pamanku yang terbaring bugil, aku pergi ke kamarku lalu mandi. Selesai mandi ketika aku mau makan makanan yang dari siang tadi sudah kusiapkan sementara paman juga sudah selesai dari mandi dan akan makan bersamaku. Pulanglah bibiku dari kerjanya.
“Loh.. Ayah sudah pulang?”
“Kok cepet Yah?”
“Badanku agak sakit jadi jam 2 tadi aku sudah pulang, untung keponakanmu Novi, bisa masak jadi baru sekarang aku bisa makan setelah tidur.”
“Wah.. Novi.. hebat yach.. bisa masak juga, kamu pulang jam berapa dari daftar ke kampus?”
“E.. e.. jam 04.00 sore.. Bi..”
Kujawab pertanyaan bibiku sambil tersenyum ke arah pamanku yang juga tersenyum kepadaku dimana sebenarnya aku telah membohongi bibiku sendiri. Bibiku lalu meninggalkan aku dengan suaminya di meja makan untuk berganti baju. Aku lalu berbisik pada pamanku.
“Paman, ma’afin Novi yach, sudah membohongin Bibi, Paman jangan ngadu yach..!”
“Enggak.. Novi.. Paman nggak akan ngadu.. malah Paman terima kasih kamu telah berbohong pada bibimu, soalnya Paman juga takut sama Bibimu, pokoknya kejadian tadi siang jadi rahasia kita berdua.. yach?”
“Oke.. Paman!”
Hari berganti hari membuat hubunganku dengan Paman Hendi semakin intim layaknya suami istri dan tentu saja kami lakukan jika Bibi Nani tidak di rumah. Selain di rumah, kami juga sering melakukan di Parang Tritis. Hubungan kami berlangsung selama 1,5 bulan di saat aku pun sudah terdaftar jadi mahasiswi di sebuah akademi di Jogja dan mulai tercium oleh Bibi Nani. Hari itu hari Jum”at, seperti biasa Paman pulang dari sekolahan dan setelah lepas sembayang Jum’at kami pasti janjian di rumah untuk melakukan hubungan suami istri, di saat Paman sedang telanjang di atas tubuhku yang juga telanjang, Bibi Nani langsung masuk kamarnya. Dia langsung menjerit dan pingsan melihat kami. Aku dan paman pun lalu menghentikan perbuatan kami dan merasakan keheranan atas kepulangan Bibi yang lebih awal dari biasanya.
Setelah siuman Bibi Nani menyidangi aku dan suaminya, dengan perasaan menyesal dan minta maaf akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan kota Jogja dan statusku sebagai mahasiswi untuk kembali ke Jakarta. Tetapi setelah Bibi Nani dan Ibuku bicara melalui telepon malam itu, akhirnya ibuku yang masih marah kepadaku memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta tapi aku disuruh ke Surabaya untuk tinggal dengan Pakde Gatot yang merupakan kakak tertua ibuku.
Pagi harinya dengan menaiki bis, kutinggalkan Jogja dengan sejuta kenangan bersama Pamanku menuju Surabaya. Siang harinya aku tiba di rumah Pakdeku di Surabaya. Pakde Gatot adalah kakak ibuku yang tertua, usianya 50 tahun. Pakde seorang pengusaha yang sangat sibuk sekali sehingga dia jarang sekali di rumah. Di rumah paling-paling dalam setahun dia hanya 1 bulan, selebihnya mengurusi bisnisnya yang banyak di luar negeri. Mungkin inilah pertimbangan ibuku aku ikut Pakde pasti tidak akan menggoda lagi, memang betul sih pendapat ibuku, tapi pada akhirnya yang tergoda bukannya Pakde tapi Ayah dari Budeku. Budeku seorang yang masih muda, usianya baru 30 tahun, dia merupakan sekretaris Pakdeku yang dinikahi oleh Pakdeku. Saking sibuknya Pakde, otomatis Bude sering ikut bisnis dengan Bude pergi ke luar negeri, Bude pun jarang di rumah.
Sudah dua bulan aku di Surabaya, di rumah Pakde yang besar dengan 6 kamar tidur. Aku tinggal beserta 3 pembantu wanita dan 2 orang penjaga malam. Sejak aku datang dari Jogja, 2 hari kemudian Pakde dan Bude pergi ke Singapura menjalankan bisnisnya dan menemani kedua sepupuku yang masih SMP di Singapura sampai 2 bulan lebih tidak kembali ke Surabaya. Rasa bosanpun timbul pada diriku, aku malas untuk mendaftarkan diri untuk kuliah. Akhirnya hari-hariku aku lewatkan hanya berenang di rumah Pakde, Nonton film dan jalan-jalan di Surabaya, sesekali kuhubungi ayahku di Jakarta yang rupanya sejak aku tinggal di Jogja, ayah tidak tinggal lagi di rumah tapi tinggal di bengkel miliknya, jadi ayah dan ibuku sudah pisah rumah. Terus terang, kuhubungi ayahku untuk melepaskan rinduku atas belaian pria yang sudah 2 bulan tidak menyentuhku.
Suatu siang aku sedang berenang tiba-tiba suara pembantu rumah Pakde mengejutkanku.
“Mbak, di ruang tamu ada Tuan Iwan lagi nunggu.”
“Siapa itu Mbok?”
“Tuan Iwan khan bapaknya Nyonya, Mbak Novi belum kenal yach..? Wah.. waktu Mbak belum di sini Pak Iwan sering ke sini, orangnya baik loh Mbak tapi suka ngodain pembantu di sini.”
“Hush, Mbok ini nggak boleh bicara begitu!”
“Wah, Mbak ini nggak tau sih, wong 6 bulan lalu ditinggal mati sama istrinya.”
“Mbok, sudahlah nanti saya adukan ke Bude loh.”
“Eh, jangan Mbak, tapi hati-hati loh Mbak!”
Kulilitkan baju handuk dan kutinggalkan sang pembantu itu di kolam renang, aku menuju masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu. Di ruang tamu kulihat orang yang bernama Iwan lagi duduk di kursi tamu, dan kuhampiri yang lagi asyik menyeruput minuman jeruk.
“Maaf, saya Noviita, saya keponakannya Pakde Gatot, Bapak siapa?”
“Eh, saya Iwan, saya Bapaknya Budemu. Pada kemana mereka, apa lagi keluar negeri?”
“Oh iya Pak, Pakde dan Bude sudah dua bulan ada di Singapura.”
“Oh, pasti lagi nemuin kedua cucuku yach, Ivan dan Maya.”
“Oh iya betul, Pak.”
Keraguanku terhadap orang ini terjawab setelah dia menyebutkan kedua sepupuku, tapi yang aku rasakan tidak enak adalah tatapan matanya yang tajam ke arahku dimana dia seakan terangsang melihat tubuhku yang basah oleh air kolam hanya terbungkus bikini dan baju handuk. Pikiranku langsung tertuju kepada perkataan pembantu tadi.
“Kamu, Novi, keponakan Gatot dari mana?”
“Saya dari Jakarta, tujuan saya mau kuliah di sini, kalau Eyang Iwan dari mana?”
“Saya dari Banyuwangi, Budemu khan asal nya sana, tapi tolong jangan panggil saya Eyang yach, panggil saja Pak Iwan, Saya biasa nginap di sini kalau ke Surabaya, yach kalau lagi kangen dengan Budemu.” “Oh, iya Pak, ya sudah silahkan Pak, nanti kamar Bapak biar disiapkan, sekarang saya mau ganti baju dulu sehabis berenang.”
Kutinggalkan bapaknya budeku di ruang tamu, sementara aku berjalan menuju kamarku yang ada di lantai atas untuk ganti baju seusai berenang. Kumasuki kamar tidur lalu kulepaskan jubah mandi yang agak basah dan masuk kamar mandi. Setiap kamar tidur dilengkapi kamar mandi. Kutanggalkan bikini lalu kuputar tombol kran shower dan kubasuh badanku yang bugil dengan air. Seperti biasanya aku mandi tidak pernah kututup pintu kamar mandi yang kututup hanya pintu kamar dan kukunci, tapi mungkin aku lupa menguncinya karena aku tidak sadar kalau Pak Iwan (bapaknya budeku) mengikutiku dan sekarang ada di kamar sedang memperhatikan aku mengguyur badanku di bawah shower. Sepuluh menit sesudah aku mandi, ketika aku keluar dari kamar mandi dan akan mengambil handuk di dalam lemari untuk membasuh tubuhku tiba-tiba aku dipeluk oleh Bapak Iwan yang muncul dari balik pintu kamar mandi yang terbuka. Aku pun kaget setengah mati dan berusaha berontak untuk melepaskan dekapan Bapak Iwan.
“Novi, tubuhmu indah sekali sudah 10 menit aku menikmati tubuh bugilmu terguyur air, sekarang layanilah aku!”
“Ah, jangan paksa saya Pak, Bapak kok bisa masuk kamar saya, tolong lepaskan Pak..”
“Kamu khan sengaja tidak mengunci kamarmu khan, biar aku bisa masuk.”
“Ah.. jangan.. lepaskan saya, Pak..!”
Tenagaku yang lebih kuat dari dekapan Pak Iwan akhirnya terlepas juga.
“Novi, maafin saya yach, tolong jangan kasih tau kepada budemu yach kalau saya berbuat tidak baik padamu tolong yach..!”
Pak Iwan lalu berbalik dan akan menuju keluar dari kamarku tapi kucegah karena tiba-tiba rasa kangen atas sentuhan laki-laki timbul dari diriku.
“Pak.. maafin Novi juga yach, kalau Bapak minta baik-baik pasti saya kasih kok Pak..”
“Ah, yang benar nih, kamu nggak marah dan kamu nggak akan ngadu ke Pakde dan Budemu..”
“Enggak Pak, dijamin kerahasiaannya deh, sini Pak!”
Pak Iwan kaget melihat reaksiku yang tiba-tiba menerima dirinya. Pak Iwan yang sekarang di depanku semakin kaget ketika tanganku menjamah jalan tolnya yang masih tersembunyi di balik celananya kuelus dengan lembut. Aku yang makin terangsang segera jongkok di depannya dan kuturunkan celananya sehingga jalan tol Pak Iwan yang sudah mulai mengeras terpampang jelas di hadapanku dan mulai kumainkan lidahku dengan menjilati jalan tol itu yang kira-kira panjangnya 20 cm, bentuk dan ukurannya tidak jauh berbeda dari milik kepala sekolahku dulu tapi kulitnya agak keriput mungkin karena usianya yang jauh berbeda. Pak Iwan kuperkirakan berusia 60 tahun.

Seranganku bukan hanya lidah saja, mulai kucoba kumasuki ke dalam mulutku batang Pak Iwan yang membuat dirinya makin mengelinjang, matanya pun merem-melek dan tangannya mulai mengusap-usap kepalaku. Hal itu kulakukan kira-kira 15 menit dan kusudahi ketika batang itu mulai basah oleh ludahku dan tempeku juga sudah mulai merasa kembang kempis ingin ditusuk sesuatu. Aku lalu berbaring di tempat tidurku sementara Pak Iwan sedang melepaskan baju dan celananya hingga dia bugil, kulihat dia berjalan ke arahku yang terbujur bugil di tempat tidur, kakiku kulebarkan sehingga bau harum tempeku menyerbak ke ruang tidurku.

“Novi, Bau apa nih wangi sekali..”
“Bau dari tempe Novi, Pak Iwan mau khan?”
“Woow, mau sekali.”
Pak Iwan (ayah budeku) kini telah berdiri di samping tempat tidur, jalan tolnya yang sudah mulai keriput menggantung dengan tegang di hadapanku, dimana tadi sudah basah oleh ludahku. Tapi Pak Iwan malah berjongkok dekat pahaku. Tangannya yang juga sudah keriput mulai mengusap sekitar pahaku yang putih dan mulus lalu kepalanya yang agak botak didekatkan ke tempeku. Hidungnya mengendus-endus membaui tempeku.
“Novi, wangi sekali yach, pasti rasanya enak deh, boleh Bapak coba sekarang?”
“Silakan Pak, pokoknya yang enak aja deh buat Bapak, mau diapain juga boleh.”
“Terima kasih ya, Novi.”
Lidah Pak Iwan mulai menyapu sekitar bibir tempeku lalu ditusukkan lidahnya ke dalam liang tempeku dan disedot-sedot liang tempeku yang membuat diriku melintir keenakan, maklumlah sudah 2 bulan tubuhku tidak disentuh oleh laki-laki.
“Aahh.. aahh.. Pak.. enak.. sekali lidah Bapak.. tempe.. Novi.. rasanya ditarik-tarik arghh.. terus.. terus Pak.. arghh..”
“tempemu enak sekali.. Novi.. seumur hidup.. baru.. kali ini.. saya nemu.. tempe.. begini enak.. slurpp..”
tempeku disedot-sedot berkali-kali hingga aku menggelinjang ke kiri dan ke kanan membantingkan kepalaku. Rasa nikmat yang sangat barulah aku dapatkan sekarang dari Pak Iwan, sedangkan dari pria sebelumnya aku belum pernah senikmat ini. tempeku disedot selama 15 menit, dimana cairan putih dan kental mulai membasahi tempeku tapi dengan cekatan Pak Iwan melahapnya sampai habis.

Setelah puas dengan tempeku, Pak Iwan lalu berdiri tepat di sisi tempat tidur, tubuhku diputar hingga kakiku menjuntai ke bawah, lalu batangnya diarahkan tepat pada tempeku yang sudah basah oleh cairan putih dan kental. jalan tol Pak Iwan sudah menempel tepat di liang tempeku dan mulai dihentakkan keluar-masuk tempeku yang agak basah. Batang yang besar dan panjang dihentakkan berkali-kali ke dalam tempeku, baru yang ke-10 kali hentakan, masuklah batang itu ke dalam tempeku. jalan tol Pak Iwan rasanya seperti punya ayahku, baik panjang maupun besarnya, bedanya hanya pada kulitnya yang agak keriput yang membuatku agak kegelian atas gesekan di dalam tempeku.

Baca Juga: Malam Natal Penuh Kenangan

“Ahh.. ehh Pak.. batang Bapak membuat saya geli-geli enak deh.. habis agak keriput, maka gesekannya membuat saya kelojotan keenakan.”
“Oh.. iya, tempemu juga rasanya enak sekali, punya saya kayak dijepit dan dipelintir, aahh.. aahh..”
tempeku disodok-sodok sama batang Pak Iwan sampai kira-kira satu jam lamanya yang membuat tubuhku kejang di saat aku mencapai titik orgasme dimana cairan putih kental keluar dengan derasnya dari tempeku yang masih tertusuk jalan tol Pak Iwan yang masih saja tegang dengan kerasnya. “Ohh.. ohh.. aarghh.. arghh.. aahh.. aahh.. sshh.. aahh.. se.. sedap.. deh.. Pak..” Lemaslah tubuhku hingga berasa sampai tulangku, tapi Pak Iwan masih saja bertenaga untuk melanjutkan permainan seks denganku dimana tanganku lalu ditarik dan digendongnya tubuhku oleh tubuhnya yang lebih kecil dari tubuhku tapi tenaganya luar biasa, lalu gantian sekarang Pak Iwan yang berbaring dan tubuhku terbaring lemas di atasnya. Selama dia melakukan tukar posisi, batangnya masih ada di dalam tempeku.

Hentakan batangnya pada tempeku berlanjut hingga aku makin tidak bertenaga karena tenaga Pak Iwan yang sungguh luar biasa, hampir 1 jam lamanya tempeku diserang oleh batang Pak Iwan bertubi-tubi, payudaraku yang putih, ranum dan menantang pun sudah menjadi bulan-bulanan dari mulut Pak Iwan, payudaraku sudah diisap, dikenyot dan ditarik-tarik puting coklatku oleh giginya yang mulai ompong. tempeku akhirnya mengeluarkan kembali cairan putih, kental dan harum untuk kedua kalinya sedangkan Pak Iwan belum berasa apa-apa. “Argh.. argh.. aagghh.. oohh.. oohh.. Pak.. saya.. keluar.. lagi.. nich.. aagghh aghh.. aghh..” Lemaslah tubuhku di atas tubuh Pak Iwan, untuk kedua kalinya. Sementara Pak Iwan yang masih bertenaga mencoba posisi baru lagi yaitu dimana jalan tol Pak Iwan yang masih menancap di tempeku dia memutarkan badanku hingga sekarang posisinya berubah menjadi aku di bawah seakan aku menungging dan disodok oleh jalan tolnya yang masih saja keras. Posisi dimana aku menungging dan disodok oleh Pak Iwan dilakukannya selama kurang lebih satu jam lagi yang mana aku tidak merasakan apa-apa karena saking lemasnya tubuhku.
Pak Iwan akhirnya mencapai puncak kenikmatan yang pertama kalinya dimana sebelumnya aku juga mencapai puncak kenikmatan untuk ketiga kalinya.
“Aghh.. aghh.. Pak aku.. keluar lagi nich.. aghh sshh.. oohh.. oohh.. nikmat.. sekali.. Pak..”
“Aghh.. aawww.. oohh.. Novi.. aku.. juga.. keluar.. nih.. tempemu.. luar biasa sekali.. deh.. aahh.. tapi aku.. masih belum terlalu puas.. nih.. tapi.. lumayanlah.. tempemu.. nikmat, juga..”

Cairanku membasahi paha dan tempeku dengan banyak sekali. Sementara cairan Pak Iwan yang hangat dan kental membasahi punggungku karena pada saat dia akan mengeluarkan cairan, jalan tolnya sudah dilepaskan dari tempeku. Lalu ambruklah tubuh Pak Iwan di atas tubuhku yang sudah lebih dulu ambruk.
Setengah delapan malam aku terbangun dari tidur sehabis 3 jam aku melayani nafsu lelaki Pak Iwan dan Pak Iwan sudah tidak berada dalam kamarku. Setelah aku membersihkan bekas cairan di tempeku di kamar mandi, aku keluar kamarku untuk makan malam dimana aku hanya menggunakan daster untuk menutupi tubuhku sementara BH dan celana dalam kutanggalkan di kamar. Ketika aku sampai di ruang makan, kulihat Pak Iwan baru saja selesai makan dan akan meninggalkan ruang makan kulihat dia hanya tersenyum kepadaku yang kubalas dengan senyuman. Selesai makan sebenarnya aku mencari Pak Iwan tapi di ruang keluarga tidak kutemukan, aku lalu berpikir mungkin dia sudah ada di kamarnya. Jam 11.30 malam setelah nonton TV, aku beranjak menuju kamar tidurku untuk istirahat setelah tadi siang aku mengeluarkan banyak tenaga melawan permainan nafsu dari Pak Iwan, aku sedang berbaring di tempat tidurku tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan Pak Iwan berdiri di depan pintu dengan menggunakan piyama model baju handuk.
“Eh.. Pak Iwan, ada apa Pak?”
“Maaf, yach.. Novi.. boleh aku masuk..”
“Silakan Pak..”
Pak Iwan lalu masuk ke kamar tidurku dan langsung duduk di sampingku di tempat tidur, otomatis aku lalu merubah posisiku duduk di samping Pak Iwan.
“Novi, maaf yach tadi siang, saya berbuat salah.”
“Eh, nggak apa-apa kok Pak, Novi senang kok, Novi benar-benar puas tadi siang, bagaimana dengan Bapak.. puas nggak?”
“Ah yang benar Novi, kamu nggak apa-apa nih, tapi memang saya belum puas tadi siang, bisa nggak kamu muasin saya malam ini, soalnya saya lagi coba pakai tangkur buaya..”
“Ah, masa sih Pak, tadi siang belum puas, tapi kalau malam ini Bapak mau puas juga boleh, tapi badan saya agak capai gara-gara tadi siang.”
“Nggak, apa-apa kok Novi, kalau kamu capai kamu diam saja biar saya yang berpacu.. OK!”
“OK.. lah terserah Bapak.”
Pak Iwan lalu langsung melepaskan baju piyama yang dikenakan setelah aku setuju untuk memuaskannya malan ini, batangnya yang menggantung keras menantang ke arahku. Baju dasterku langsung diloloskan dari tubuhku oleh bantuan tangannya dan kami pun melakukan hubungan layaknya suami istri. Malam itu aku dibikin pingsan sampai 3 kali, tenaga Pak Iwan benar-benar luar biasa, permainan kami berlangsung dari jam 12.00 malam dan berakhir kira-kira jam 05.00 pagi, ketika terdengar ayam berkokok. Hebatnya Pak Iwan selama 5 jam permainan, dia hanya 1 kali mencapai puncak orgasme yaitu pada saat akhir permainan, sedangkan aku 5 kali orgasme dan 3 kali pingsan. Dan yang lebih hebatnya batang Pak Iwan selama permainan berlangsung tetap tertancap dalam tempeku dan bermacam posisi serta tetap keras dan tegang selama 5 jam.

Hubungan permainanku dengan Pak Iwan (bapaknya budeku) tidak hanya terjadi di rumah Pakde dan Bude di Surabaya, kami pun melakukannya di Malang, Banyuwangi (rumahnya Pak Iwan sendiri) dan di Bali. Selama 4 bulan hubungan kami, dua bulan aku berada di Banyuwangi dan sisanya kami lakukan di Bali, Malang dan Surabaya. Sesudah 4 bulan hubunganku dengan Pak Iwan akhirnya terbongkar juga oleh anaknya Pak Iwan (Budeku sendiri) dimana disaat aku sedang telanjang di atas Pak Iwan yang juga bugil, kami tidak tahu kalau Bude dan Pakde pulang dari luar negeri pada hari itu, kami kepergok ketika kamar tidurku dibuka oleh Bude, dia pun langsung pingsang melihat ayahnya sedang berbuat mesum dengan keponakannya.

Hari itu juga aku diusir dari Surabaya, sementara Pak Iwan pulang ke Banyuwangi. Dengan uang yang kupunya hasil pemberian Pak Iwan selama kami berhubungan aku kembali ke Jakarta. Aku ke Jakarta untuk pulang tapi aku tidak pulang ke rumah melainkan ke bengkel ayahku, karena ayah dan ibu sejak kejadian yang gara-gara aku, mereka berpisah rumah, ibu tinggal di rumah, ayah tinggal di bengkel yang di atasnya ada 2 ruang untuk tidur.
“Yaah.. Novi pulang Yah..”
“Hah.. Novi, kamu.. kabarnya gimana..?”
Ayah memelukku setelah hampir 6 bulan kami tidak bertemu, setelah kuceritakan nasibku pada ayahku, ayah bersedia menerimaku untuk tinggal bersamanya di bengkel. Sejak saat itu hingga kini, 2 bulan aku tinggal bersama ayahku, dan nostalgia kami pun muncul yaitu melakukan hubungan layaknya suami istri.
Sekarang aku hidup bersama ayahku, aku seperti istri bagi ayahku sendiri, aku melayani hidup ayahku, dan aku berkomitmen untuk tidak melanjutkan kuliah, dan pikiranku kepada para lelaki korban godaanku pun kubuang jauh-jauh yaitu terhadap kepala sekolahku, pamanku dan Pak Iwan, saat ini pikiranku hanya melayani ayahku dan membantunya di bengkel.

Inilah kisahku sebagai wanita penggoda, semoga para pembaca tidak ada yang nasibnya seperti diriku.

Related Post