Cerita Panas

Special Edition Nadila

Semenjak takluk di tangan Kak Joel, aku merasa tak bisa lepas darinya. Kak Joel selalu perhatian denganku, tanpa mengurangi rasa cintanya untuk Nat juga. Beberapa kali aku memimpikannya, terkadang dia tidur di kamarku jika Nat datang bulan.

Namun, saat jatuh cinta pada Beby, sebenarnya aku kecewa. Namun, aku semakin membuka diri saat ia berkomitmen untuk adil dengan kami.
“Nad, udah akur sama Beby belum?” Kalimat Kak Joel berulang kali ia katakan padaku. Di satu sisi, Beby memang sudah jadian dengannya, namun di sisi lain aku masih marah dengan Beby karena menaklukan hati Kak Joel. Namun, amarahku mereda saat kami didamaikan Kak Joel. Sejak itu, saat ada event dengan Team K3, kami selalu bertiga di mobilnya : Aku, Nat, & Beby.

Mengapa Nat tak cemburu? Dia kurang peka dengan keadaan, bahkan Nat sendiri yang cerita mengenai adegan ranjangnya pada Beby. Kusadari juga, barangkali Nat yang menyebabkan Beby tertarik pada Kak Joel.
“Nad kamu sudah besar, cobalah kamu berpikir jernih” Nasihat Mama yang kuingat selalu & menjadi salah satu alasanku tetap bertahan dengan Kak Joel, selain karena ia membuat hidupku berwarna, baik perhatiannya, kepeduliannya, maupun gaya ranjangnya yang membuatku berkali-kali mengompoli kasurku sendiri. Dari pengalaman seksku, bahkan sampai diperkosa ramai-ramai di arena HS beberapa waktu silam, hanya Kak Joel yang membuatku betah, tak bisa kukatakan alasannya.

Saat aku mandi, kusabuni seluruh tubuhku, kedua payudaraku kuremas sendiri membayangkan Kak Joel meremasku. Kuambil sabun batanganku, kusabuni vaginaku. Saat sabun mengenai vaginaku, bayangan bercinta dengan Kak Joel selalu terbayang. Kumasukkan sabun itu, lalu kugosok sendiri, persis saat Kak Joel masukkan penisnya ke vaginaku.
“Mmhh kaaaak” Tak sadar kupejamkan mataku sambil membayangkan adegan ranjang itu. Ah mengapa jadi nafsu begini? Kocokan vaginaku dengan sabun kupercepat, tubuhku mengejang & menggelinjang.
“Oohh kaak aku keluaaaarrgghh” Aku menyemburkan cairan vaginamu, orang bilang itu orgasme. Tiba-tiba badanku melemas & kehilangan keseimbanganku. Kak Joel, aku ingin bercinta denganmu lagi, meski malam ini bercinta dengan Nat.

Baca Juga: Bercinta Dengan Janda

Tiap malam, Mama selalu menanyakan kabarku, terkadang Mama menanyakan kuliahku. Memang, aku dicarikan Kak Joel kosan yang dekat dengan kegiatanku & letaknya satu bangunan dengan Nat. Keluargaku kebanyakan tinggal di Bogor. Namun, beberapa waktu ini Mama tak berada di Bogor, beliau malah liburan di Lombok. Aku tak ikut karena padatnya jadwalku.
“Dek, Mama mau liat cowokmu” Chat Mama yang ingin tahu Kak Joel. Kukirimkan fotonya & kuceritakan tentangnya.
“Wah, anak Mama cinlok nih” Ah, Mama macam anak zaman sekarang.

Semenjak kepergian Papa, aku kehilangan sosok lelaki yang melindungiku, malah bertemu dengan tipe yang menyiksaku. Kak Joel sedikit berbeda, meski pernah berhubungan badan, tapi dia penuh perasaan & tanggung jawab. “Kak, maafin ya kalo ngabisin duit kakak”
“Udah lah Nad, lain kali bisa hemat & atur uang kalo jadi istri nanti”
“Ah kakak bisa aja” Waktu itu, aku lupa tak membawa uang saat shopping.
“Uangnya gak usah diganti Nad, anggap aja uangmu” Satu hal yang kukagumi dari Kak Joel, tak pernah pelit masalah uang denganku. Aku masih sungkan saat itu. Di sisi lain, aku berterima kasih karena ia telah membantuku. Aku ingin menghabiskan seluruh hidupku dengannya. Saat aku jadi korban pemerkosaan massal di area HS itu, dia peduli denganku, padahal belum jadian.

Mama memang agak selektif dalam urusan apapun, namun saat kuceritakan tentang Kak Joel, Mama justru bebas dalam urusan pacaran selama Kak Joel mau tanggung jawab.
“Nad, semoga Joel jadi pelindungmu semenjak Papa gak ada” Tak kusadari, air mataku mengalir, tak dapa kubendung saat mengingat kembali masa laluku dengan Papa. Meski kini berwarna saat kehadiran Kak Joel, namun aku masih tak bisa menerima kepergian Papa.
“Pa, seandainya Papa masih ada hingga kini, Papa bisa liat kebahagiaanku” Aku terisak di samping pusara Papa.
“Doakan papamu agar dipertemukan lagi, kakak yakin beliau tenang di sana” Kak Joel merangkulku di bawah guyuran gerimis di pemakaman sore itu.
“Kamu bisa kok bangkit dari kesedihanmu mengingat papamu. Jadi yang terbaik agar papamu tenang di sana” Jarinya menyeka air mataku. Kami pun pulang. Harapanku bangkit karena kehadiran Kak Joel.

Dan waktu membawaku menuju tanggal 23 September. Ya, itu adalah tanggal ulang tahunku. Kini aku beranjak dewasa, sudah bosan sih dikasih gift. Ah, ingatanku kembali pada Papa. Mama cerita dulu waktu aku lahir, Papa sangat bahagia menggendongku. Sewaktu kecil pun aku diberi kejutan oleh Papa. Ah, itu hanya kenangan saja. Mama hanya mengirim ucapan & doa dari kejauhan.

Pintu kamarku diketuk pada waktu pagi. Aku takut jika tetangga kosan mengerjaiku hingga malu. Aku melangkah ke arah pintu itu. Kubuka perlahan pintuku. Dan…
“HBD sayang” Kak Joel yang pertama kali kulihat & membawa sesuatu. Tak hanya Kak Joel, Kak Rona pun juga datang. Tubuhku refleks memeluk Kak Joel tanpa memedulikan siapapun yang melihat kami.
“Ehem yang pamer kemesraan” Kak Rona & Nat celetuk sambil tertawa.
“Semoga jadi orang yang sukses, lancar semuanya, & bisa langgeng sama cowokmu”
“Ah kakak ini jadi malu” Kubelai wajahnya dengan penuh perasaan. Kak Joel membawa barang besar, kukira boneka.
“Yah kakak, kok bukan boneka?”
“Buka aja” Ada maksud tertentu di balik senyumannya. Saat kubuka, ternyata isinya gitar akustik baru.
“Ah kakak tau aja aku gak bisa main gitar gara-gara Nat”
“Ih masa aku sih”
“Coba inget, masa ngacir nonton film horor sampe nabrak gitar”
“Udah ah gak usah ngambek” Kak Joel mencoba menenangkanku.
“Thanks kak, ngerti banget masalahku” Kuraih gitar baruku & kulihat tiap bagian gitarku.
“Jadi gini, kamu kan ngeluh fals mulu, jadi ada indikatornya apa udah pas apa enggak”

Hariku kini memang bahagia, namun tak ada Papa yang biasanya mendoakanku sewaktu kecil dulu
“Nad, kamu kenapa?”
Tak kusadari mataku berkaca-kaca.
“Kakak tau kamu sedih kepikiran papamu. Terkadang hidup harus merelakan sesuatu. Oh iya aku ngajak kamu dinner abis latihan”
“Serius kak”
“Iya, FX yuk”
“Entar ada paparazzi gimana?”
“Gampang, kita cari tempat yang aman”
Jujur, Kak Joel itu first love bagiku, belum pernah pacaran sebelumnya.

Siangnya, aku ada kuliah & sudah diajak janjian sama Della. Senangnya aku karena esoknya adalah perayaan ulang tahun di theater & yang melelahkan adalah tantangan 20 show full theater beberapa hari ke depannya. Semoga Kak Joel nonton juga & menyemangatiku.

Hari demi hariku mulai lebih semangat lagi sejak kedatangan Kak Joel. Meski tak sepenuhnya menggantikan peran Papa, namun ia menjadi alasanku tetap tegar & di sisi lain aku justru menjadi rindu sosok Papa.
“Cie ngelamun mulu” Ah Della mengganggu lamunanku setelah istirahat kuliah.
“Udah siap tenaga buat tantangan setlist baru?”
“Hehe siap dong” Aku meyakinkan diriku sendiri. Setelah kuliah, aku mengganti pakaian dengan baju tanpa lengan dengan tali di dekat leher. Aku tak ikut konser di Surabaya karena aku masih kuliah hari sabtu.

Kak Joel tiba & mengajakku pergi.
“Nad, yuk” Saat teman kuliahku bubar, ia baru datang. Aku sengaja tak menjawabnya & langsung naik mobilnya. Ah, letihnya hari ini hilang rasanya saat ia mengajakku dinner. Ah terasa nikmat hari ini, di mana merasakan semobil berdua dengan Kak Joel saja. Aku diajak ke FX Sudirman untuk dinner.
“Nad, kakak jadi pengen makan makanan lokal deh, bosen makanan Jepang, dari kecil makananya gitu”
“Terserah aja deh kak”
Kak Joel menuju sebuah resto khas suatu kota yang dulu pernah kukunjungi saat konser tunggal itu, letaknya di lantai 2. Untunglah tempatnya sepi.
“Kakak waktu kecil pernah ke sana, kotanya waktu itu dingin. Terakhir agak panas sih. Kamu inget kan waktu kamu perform Blue Rose di sana”
“Kok kakak tau?”
“Lah kakak dulu pernah nonton, oh iya kamu mesen apa?”
“Cui mie aja deh” Kulihat ia memilih nasi rawon. Aku sengaja tak memilih menu nasi karena malas makan nasi.

Waktu menunggu pesanan masih lama. Kulihat Kak Joel mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, suatu kotak merah. Apa yang ia berikan? Mulai Deg-degan.
“Aku sengaja belikan ini untukmu” Aku tak menyangka jika ia mengenakan kalung perak dengan hiasan inisialku ke leherku.

“Maaf ya dek kalo cuma bisa ngasih kalung, sebenarnya sih…”
“Ah gapapa kak, kehadiran kakak aja udah jadi kado yang indah”
“Kakak janji suatu saat nanti bisa mengajakmu ke hubungan yang lebih serius”
“Tapi, gimana sama Nat & Beby?”
“Kakak jamin mereka dapat perlakuan yang sama, makan dulu yuk” Aku sedikit reda saat Kak Joel menenangkanku, hmm ia persis Papa yang bisa menenangkanku saat kesedihan tiba. Ah, rencana-Nya memang indah.

Jalanan Jakarta yang macet selalu menemaniku. Biasanya aku order ojek sehingga bisa pulang lebih cepat. Namun sejak selalu diantar dengan mobil Kak Joel, sering terjebak macet. Andai saja orang lain yang mengantarku, pasti aku tinggal tidur. Aku mencuri pandangan ke arahnya yang kesal lantaran macet.

“Di Jepang pasti gak gini kan?”
“Iya lah Nad, kalo di lampu merah di sana, yang rame pejalan kaki, di sini yang rame malah motor”
“Kakak sabar dong” Kupegang tangannya yang sedang memegang persneling.
“Nad, nanti malem aku pengen sama kamu”
“Boleh lah kak, emang mau ngapain?”
“Liat aja sendiri”
Ah apa kejutan selanjutnya? Aku semakin khawatir.

Akhirnya kami sampai di kosan. Malam ini kuharap tak ada yang mengganggu kami. Kuhabiskan malam ini bersama orang yang nantinya akan menjadi pendampingku. Kukunci kamar kosanku, lalu kuncinya kusimpan.

Dengan sigap, ia memelukku erat hingga payudaraku tergencet. Ia melumat bibirku secara lembut. Rasanya diriku melayang entah ke mana. Kuimbangi permainan lidahnya yang mulai membuat nafsuku aktif. Liur kami tercampur. Ciumannya mendarat ke leherku. Aku menarik perhatiannya dengan aroma parfum di leherku. Ah, hembusan nafasnya terasa lembut.
“Kaak, mmmhh” Aku kegelian begitu bibirnya mencumbu leherku. Mengapa kali ini ia lebih lembut dari sebelumnya?

Kak Joel mengangkat bajuku dengan mudahnya. Aku masih mengenakan kemben namun tak mengenakan BH. Ia remas perlahan dari luar. Pijatannya nikmat sekali.
“Terus kak”
Ia menghentikan permainannya & membopongku ke ranjang. Ia menurunkan kembenku & payudaraku terlihat jelas di hadapannya. Ia menghisap putingku yang mulai mengeras.
“Kaaak” Aku tak dapat menahan rasa geli bercampur nikmat di bawah temaram lampu tidur. Hisapannya sangat kuat namun ia tak mengigitnya. Lidahnya bermain di sana.
“Engghh kakk” Nafsuku benar-benar bangkit. Aku mendorongnya & melepas dalamanku hingga aku dalam kondisi topless. Hisapan & remasannya sangat melemahkanku di hadapannya. Kini ia bermain di belahan payudaraku. Aku mengerang keenakan & menekan kepalanya ke dalam. Tubuhku terasa panas, nafasku tak teratur.
“Kaaak” Kurasakan seperti kencing di celanaku.

Kak Joel lepaskan celanaku. Kubantu angkat pantatku sendiri agar mudah melepas celana dalamku. Kini aku benar-benar telanjang di depannya. Rasa dingin akibat cairan yang kukeluarkan tadi.
“Wah, udah becek” Ia menelanjangi diri & kami sama-sama telanjang. Vaginaku terasa bergesekan dengan benda kenyal. Ia menjilat klitorisku. Aku kegelian sekali.
“Kaak oohhh” Vaginaku terasa geli saat lidahnya memasukinya.
Goyangan lidahnya tak teratur, kadang maju mundur, kadang menjilati bibir vaginaku. Pahaku sedikit bergetar karena harus menahan geli. Masa aku harus kencing lagi?
“Kak, terus, mmhh, dikit lagi” Jilatannya seakan meruntuhkan pertahananku. Sekuat-kuatnya kutahan rasanya, namun lama-lama aku tak kuat. Kutekan kepalanya lebih dalam & jilatannya semakin cepat.
“Kak, aaaaaahh” Aku terkencing lagi. Ini yang Kak Joel sebut orgasme. Semburanku ia sedot hingga aku lemas. Nafasku seperti sesak & berat.

Ia mulai memainkan penisnya di dadaku. Lama kelamaan bergeser ke wajahku & menggesekkan mulutku. Ia berganti posisi sehingga aku yang di atasnya.
“Dek, mau ya”
“Jangan sampe keluar di mulut kak” Jujur aku sangat tersiksa saat ia menumpahkan spermanya di mulutku, itu yang biasa ia lakukan jika bercinta. Kubuka sedikit mulutku. Penisnya perlahan masuk. Kujilati tiap bagiannya yang membuat kak Joel kegelian juga, sama seperti yang aku rasakan tadi. Aku maju mundurkan kepalaku agar kulumanku bisa menjangkau hampir semua bagian penisnya.
“Ssshh Naad, enak banget”
Aku pelan-pelan mengulumnya agar tidak terkena gigiku. Sesekali kusedot benda itu.
“Naad” Desahan demi desahan Kak Joel menandakan jika kulumanku bisa liar. Kulihat nafasnya mulai tak teratur sehingga kulumanku kuakhiri & kukocok saja penisnya.
“Oooohh” Ia menumpahkan spermanya di wajahku. Bau amisnya memang sudah terbiasa, namun rasanya aneh sekali. Ia dengan sigap mengambil tisu & mengelap wajahku.
“Maaf ya, kakak gak tahan sampe muncrat”
Tumben sekali ia membersihkan sisa permainannya. Apakah dia mulai lembut padaku?
Ia sengaja menghentikan permainan sejenak agar aku bisa mengatur kembali nafasku.
“Kak”
“Iya Nad”
“Kalo aja misalnya aku ha…”
“Ssst, kakak main aman”

Aku berposisi merangkak agar Kak Joel bisa memasukkan penisnya dari belakang. Ia menggesekkan penisnya di bibir vaginaku.
“Kak, masukin”
Ia masih menggesek penisnya.
“Please sayang masukin, adek gak tahan” Jujur saja aku merasa tanggung karena aku ingin digenjot.
“WOI BUDEG! NGENTOT GIH! TANGGUNG!” Aku kesal karena tidak ia masukkan.

Dan tak kuduga, ia langsung melesatkan penisnya & menghantam mulut rahimku.
“Aaakkkhhh sakit tau!”
“Salah sendiri mau ngentot malah maki-maki” Kak Joel meremas pantatku dengan ganasnya.
“Kak mmhhh” Sodokannya mengingatkanku saat digangbang satpam theater, ah tapi rasanya kurang keras.
“Woi gak bisa kenceng apa?”
Aku kesal karena genjotannya kurang kasar. Sejak bercinta dengannya, aku suka dikasari.
“Kurang kenceng!”
Kak Joel otomatis memacu penisnya hingga kepalaku hampir membentur sandaran ranjang.
“Okh kak mmhh ssshh”
“Desah dong Nad” Kak Joel memaksaku mendesah sambil menampar belahan pantatku. Perih perih nikmat.
“Kak, terus, fuck me harder”
“Kurang keras” Kak Joel malah yang lebih kasar dariku.
“Aaakkhh” Aku mendesah seerotisnya & sekencangnya, tak peduli tetangga kosan yang terganggu.

Pacuannya semakin kasar. Genjotannya tak terarah dalam vaginaku, serasa diaduk secara brutal. Dadaku terasa sakit karena payudaraku terguncang. Kak Joel meremas kasar payudaraku, terkadang mencakarnya.
“Terusin grepenya anjing! Siapa suruh berhenti?” Aku terbawa nafsu oleh pergumulan kasar. Serasa aku belum puas digenjot brutal & diremas kasar. Rambutku dijambak. Saat tubuhku tertarik, penisnya ia hujam lebih dalam.
“Kasar lagi setan!”
Kak Joel memacu lebih kencang lagi hingga vaginaku terasa panas akibat kgesekan penisnya.

Beberapa menit kemudian, kurasakan nyeri pada vaginaku akibat gesekan yang terlalu kasar.
“Kak, ampun”
“Mendesah yang erotis” Kak Joel kini yang kasar tanpa ampun. Tamparan di pantatku secara bergantian hingga perih.
“Kaak, entot aku terus dong” Aku mengerang kesakitan kini. Aku tak menyangka jika permainan ini lebih kasar dari pemanasan tadi.
“Kak, please stop, aku kebelet”
Aku terkencing hebat. Bukannya berhenti, Kak Joel malah memacunya.
“Okhh” Aku jadi terkencing lagi.

Aku menghentikan sejenak permainan ini. Kak Joel mencabut penisnya.
“Shit belum crot” Ia mengumpat diri sendiri. Saatnya kukerjai dia. Kutarik tangannya hingga ia tersungkur di ranjang.
“Eh budak! Biarin yang ultah yang di atas”
Mendengarku, Kak Joel pasrah saja. Kuraih penisnya, lalu kupegang untuk kumasukkan sendiri. Aku naik turunkan pantatku sehingga merasakan kenikmatan yang berbeda.
“Mmmhh” Aku bergoyang seperti penari striptis dengan penis menancap di vaginaku.

Tangannya aktif menggerayangi tiap tubuhku. Entah apa yang ia kagumi, padahal aku tak seseksi Nat.
“Kurang kenceng goyangnya lacur!”
“Bacot anjing!” Kata-kata kasar kami saling beradu mengiringi pertarungan 2 alat kelamin kami. Kak Joel menampar keras pantatku hingga membuatku terpacu untuk meningkatkan goyanganku.
“Ooh ssh enak anjing” Kenikmatan yang tak bisa kugambarkan adalah saat aku bisa mengimbangi permainan kasarnya. Suara tabrakan antar alat kelamin kami terdengar keras. Vaginaku becek.

Sekali lagi, kupacu goyanganmu hingga penisnya menghajar lubang vaginaku.
“Woi kontol kakak patah entar!” Kak Joel bangkit & menjambak rambutku hingga berantakan. Setelah menjambakku, ia meremas payudaraku hingga agak bengkak.
“Kak terus grepenya, aku gak tahan”

Kak Joel dengan beringas mendorongku hingga jatuh & mengasari vaginaku.
“Woi pelan njing!” Aku merasakan vaginaku berkedut kencang & tak bisa melayani penisnya. Bukannya pelan, ia malah memacu penisnya lebih kasar & menggesekkannya di dinding vaginaku hingga geli luar biasa.
“Kaak stop” Kutampar Kak Joel karena tak mendengarkanku. Ia membalasnya dengan menggigit putingku & menghisapnya hingga serasa terlepas.
“Kak sakit”
Kak Joel menggigit putingku & menjilatinya. Nafasku semakin tak teratur.
“Aahhh kak gigit terus” Aku mengerang kesakitan atas bawah. Penisnya masih tetap mengacung tegak di vaginaku. Sodokannya membuat mulut rahimku terasa dipukul.

Tubuhku mengejang & susah kukendalikan.
“Kak, aku keluar lagi, oookkkhh” Aku melenguh & terkencing lagi. Penisnya kujepit keras akibat kontraksi ogasme. Tubuhku melemas akibat mengimbangi permainan kasar Kak Joel. Ia mencium bibirku lagi lidahku teradu.

Aku diposisikan tidur miring, lalu Kak Joel melesatkan penisnya hingga menghujam vaginaku.
“Kak, kasarin memekku dong”
Kak Joel malah menghentikan penisnya di dalam vaginaku.
“WOI NGENTOT LAGI GIH, GATEL NIH MEMEK!”
Kak Joel kesetanan menggenjotku dari samping. Kaki kiriku dikalungkan di pundaknya. Aku memandangnya hingga mata kami saling menatap saat alat kelamin kami beradu.
“Hahahah tadinya minta dikasarin, begitu dikasarin beneran malah murung, nikmati aja Nad” Ia tersenyum jahat padaku. Aku teringat saat aku diperkosa ramai-ramai di area HS waktu itu.

Karena melihatku memelas permainannya dikasari, ia membelaiku, namun genjotannya masih terlalu cepat.
“Kak, enak, terus, mmmhh sakit” Entah mengapa ku menjadi menikmati permainannya. Aku ketagihan seks dari pacarku. Kucoba menjepit penisnya agar terasa seperti sempit.
“Ookh sempit banget, enak” Kak Joel tetap bisa memacu di vaginaku meski kutekan hingga sempit. Cairan orgasmeku yang melicinkan vaginaku.

Tak kusangka, Kak Joel masih kuat menggagahiku. Keringatku mulai bercucuran karena serunya permainan ini. Cuaca di luar kosan sangat dingin karena mendadak hujan, namun tubuhku terasa panas sekali.
Hingga suatu waktu, tubuhku bergetar hebat. Entah apakah aku orgasme lagi.
“Kak, fuck me harder”
Ia pacu penisnya & melesat lebih ke dalam lagi. Benturannya terasa hingga sampai ubun-ubunku.
“Kak, aku hampir… aaakkhh” Aku orgasme lagi, perihnya vaginaku terbayarkan sedikit dengan pergumulan ini. Nafasku semakin tak teratur karena harus membuang tenaga besar untuk melayani nafsunya yang besar.
“Kak”
“Nad”
“Kakak belum capek?”
“Kakak baru capek kalo udah ngecrot dek”
“Kakak mau ngecrot di mana?”
“Dalam aja deh kak, aku kemaren baru kelar dapetnya” Aku memang diajari Nat menghitung masa suburku, yaitu sekitar 10-17 hari setelah siklus datang bulan periode sebelumnya.
“Nad, lanjut yuk”
“Eh kampret aku masih lemes kak”

Kak Joel menciumi leherku yang berkeringat.
“Ih jorok kak”
“Masih wangi tuh” Ia menjilat leherku & bagian belakang telingaku.
“Mhh geli kak oohhh” Aku ditaklukan lagi. Nafsuku memuncak hari ini, di hari ulang tahunku aku ini adalah momen petama bercinta.

Kini aku direbahkan & kakiku diangkang lebar & ditekan ke tanganku. Kupegangi kakiku agar vaginaku terbuka lebar. Kak Joel beringas menyodokkan penisnya lagi.
“Mmmh kak perih” Aku merasa vaginaku agak berdarah. Antara nyeri, kegelian, atau nikmat bercampur. Tubuhnya tertahan oleh pahaku. Anusku dicolok dengan 3 jarinya.
“Eh kok malah ngobok anus sih?” Aku protes. Namun, ia tak mendengarkanku, malah memacu penisnya. Tangannya liar meremas dadaku yang putingnya mengeras dari tadi.
“Kaaak” Aku hanya mengerang karena permainannya.

Temponya semakin tak teratur. Aku melihat Kak Joel mulai merasakan akan mencapai puncaknya.
“Okh Nad enak”
“Kak, aku hampir sampe”
“Tunggu aku juga, entot aku kasar lagi kak!”
“Mendesah yang keras lacur!”
“Ookhh kaaaak hamilin aku!”
Tubuhnya mengejang & semakin kesetanan menggenjot. Temponya semakin tak teratur & lebih kasar lagi
“Aakkhhh” Kami pun mendesah mencapai puncaknya bersamaan. Aku terkencing lagi, lebih banyak dari sebelumnya. Kurasakan penisnya berkedut & vaginaku terasa penuh cairan hangat. Kak Joel menumpahkan spermanya di vaginaku.
“Sorry kelepasan” Ia masih tak teratur nafasnya. Kurasakan spermanya meluber ke luar vaginaku. Kami pun semua lemas.

Kulihat jam dinding sudah menunjukkan jam setengah 3 dini hari. Aku tak sadar selama ini kami bercinta. Tubuhku terasa dingin sekali. Kudengar hujan masih deras. Kak Joel merapatkan tubuhnya & menyelimuti kami.
“Nad”
“Makasih ya udah ngasarin memek yang lagi ultah”
“Tapi kamu suka kan?”
“Menurutmu kak?”
“Suka & ketagihan” Ia hampir terlelap. Bukan terlihat mengantuk, malah terlihat seperti orang mabuk.
“Nad, kamu pasti kedinginan” Ia mengatur suhu AC kamarku. Kami pun saling memeluk erat. Apa ini maksud Kak Joel tak mau melepaskanku?
Pada malam yang berbadai, ingin tidur di sampingmu
Hujan beserta angin dengan teramat kencang, menutup kaca di jendela
Ku ingin dipeluk kamu & melupakan semua
Jarum pada jam dinding & juga kalender & ranjang tempat kita berdua, adalah dunia kita berdua…

Tak sadar kunyanyikan bait itu. Kak Joel pun tersenyum padaku sebelum kami berciuman & menutup mata masing-masing untuk pindah ke alam mimpi sejenak.

Related Post